Dalam kitab-kitab Samawi terdapat beberapa penisbahan kata “Tuhan” kepada berhala, karena banyaknya keterangan ini maka tidak perlu lagi kutipan syahid. Begitu juga, penisbahan kata “Tuhan” kepada guru. Perhatikan teks Yohanes 1:38, “Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikuti. Dia lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru) dimanakah Engkau tinggal?”
Berdasarkan data-data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidaklah logis apabila berargumen dengan penisbahan kata-kata “Allah” atau “Anak Allah” kepada makhluk, seperti Malaikat, Yesus Kristus, Setan, berhala, dan guru.
Permasalahan kelima: Selain contoh-contoh pada nomor tiga dan empat di atas, bentuk hiperbolisme (majaz) yang terkait dengan Tuhan adalah sangat banyak. Misalnya, hiperbolisme tentang janji Allah kepada Abraham mengenai anak dan keturunannya yang diceritakan dalam Kitab Kejadian 13:16. “Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunannya pun akan dapat dihitung juga.” Teks lain 22:17, “maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kotakota musuhnya.”
Begitu juga Allah menjanjikan kepada Yakub bahwa keturunannya seperti debu tanah sebagaimana diceritakan dalam masalah nomor empat tentang keturunan Abraham dan Yakub. Tetapi selama beberapa kurun waktu ini keturunan Abraham dan Yakub belum mencapai gambaran jumlah debu di suatu negeri, terlebih jumlah butiran pasir di Taut atau jumlah debu di seluruh dunia. Hiperbolisme juga terjadi dalam bentuk sanjungan Tuhan terhadap suatu negeri yang tiada bandingannya, suatu negeri yang kaya akan susu dan madunya. Perhatikan teks Kitab Keluaran 3:8, “Sebab ini Aku telah turun untuk melepa.skan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.”
Dalam Kitab Ulangan 1:28 dikatakan, “Orang-orang itu lebih besar dan tinggi daripada kits, kota-kota di sana besar dan kubu-kubunya sampai ke langit.” Dalam Ulangan 9:1 disebutkan perumpamaan berikut, “Dengarlah hai orang Israel! Engkau akan menyeberangi sungai Yordan pada hari ini untuk memasuki serta menduduki daerah bangsabangsa yang lebih besar dan lebih kuat daripadamu, yakni kota-kota besar yang kubu-kubunya sampai ke langit.”
Kemudian dalam Kitab Mazmur 78 dikatakan, “[65] Lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur, seperti pahlawan yang siuman dari mabuk anggur. [66] Ia memukul mundur Para lawan-Nya, Ia menyebabkan mereka mendapat cela untuk selama-lamanya.” Dalam Mazmur 104:3 disebutkan tentang sifat Tuhan, “Pujilah Tuhan, yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu.”
Perkataan Yohanes juga penuh dengan hiperbolisme, dan sedikit sekali teks kitab itu yang tidak memerlukan penakwilan. Ini sebagaimana diakui oleh pemerhati Injil Yohanes, surat-surat dan kesaksiannya. Di antara sekian banyaknya teks Yohanes yang memerlukan penakwilan itu, saya kutip satu paragraf saja dari Wahyu kepada Yohanes 12:1-7. “[1] Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. [2] Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. [3] Malta tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor nags merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahlvata. [4] Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit clan melemparkannya ke bumi. Naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera setelah perempuan itu melahirkan-Nya. [5[ Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi, Tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan takhta-Nya. [6] Perempuan itu lari ke padang gurun, dimana telah sediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di si seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. [7] Maka timbullah pe: perangan di surga. Mikhael dan Malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dihantu oleh malaikat-malaikatnya.
Tek-teks seperti di atas sangat aneh. Jika teks-teks itu tidak ditakvvil. kan maka mustahil dapat dipahami dan jikapun teks-teks itu ditakwilkan maka bentuk takwilnya pun sangatlah sulit. Menghadapi teks-teks seperti ini kalangan Ahlulkitab tentu mempergunakan perangkat dan mekanis. me takwil. Dan mereka menyadari betul bagaimana kitab-kitab langit penult dengan gambaran-gambaran hiperbolis. Menurut pengarang Mursyid ath-Thaain it Alkitab al-Muqaddas ats-Tsamiu pada pasal ketiga belas bahwa istilah-istilah dalam kitab suci memakai bentuk. bentuk hiperbolis yang sulit untuk dipahami, terutama dalam Kitab Perjanjian Lama. Hal serupa terjadi dalam Kitab Perjanjian Baru dimana di dalamnya terdapat istilah-istilah dan perumpamaan-perumpamaan yang jlimet dan tidak mullah dipahami. Kondisi ini sering memicu berkembangnya pendapat-pendapat keliru dan kacau karena banyak di antara para penafsir kitab ini menafsirkan teks-teks itu secara harfiah. Dalam pada ini saya perlu menunjukkan beberapa contoh dari penafsiran harfiah yang dinilai tidak akurat. Di antaranya penafsiran tentang kata-kata Yesus kepada Herodes dalam Lukas 13:32, “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu.” Kata-kata “serigala” dalam redaksi ini biasanya dipahami sebagai “penguasa yang lalim.” Ini disebabkan prototipe dari serigala itu sendiri sebagai binatang buas, liar dan binal.
Contoh lain adalah kata-kata Tuhan kepada orang-orang Yahudi dalam Yohanes 6:51, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Dalam teks 52, “Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Para penafsir tidak melihat makna lain dari daging ini, selain pengorbanan yang diberikan Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia di dunia. Di antara mereka ada juga yang mengembalikan makna “roti” ini kepada “tubuh” berdasarkan teks Matius 26:26, “Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Dan tentang khamar (cawan) dimaknai dengan darah, sebagaimana dinyatakan dalam Matius 26:27-28, “Minumlah kamu semua dari cawan, Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”
Sejak abad kedua belas, orang-orang Katolik Roma mengambil makna lain yang berbeda berdasarkan beberapa bukti lain dalam kitab suci serta dalil-dalil lain yang dipandang lebih argumentatif. Pendapat mereka adalah bahwa wujud roti dan cawan berubah ke dalam wujud tubuh dan darah Yesus. Kedua benda itu, yakni roti dan cawan, merupakan dua substansi material yang tetap dan tidak berubah. Karenanya, penakwilan yang mendekati kebenaran adalah roti tersebut dimaknai “seperti tubuh-Nya” dan cawan dimaknai “seperti darah-Nya.”
Pemaknaan seperti ini cukup jelas dan tidak samar lagi. Hanya saja, keterangan “sejak abad dua belas dan seturusnya” merupakan bantahan terhadap penganut Katolik Roma yang meyakini berubahnya wujud roti dan cawan ke dalam wujud tubuh dan darah Yesus secara kasat mata. Kata-kata Yesus yang pertama dipahami secara harfiah sebagai argumen yang menguatkan keyakinan kalangan Kataholik Roma tentang perubahan wujud (esensi). Perhatikan bunyi teks itu, “[26] Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” [27] Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”[408]Menurut para penganut Protestan, kata “inilah” menunjukkan kepada esensi sesuatu yang semuanya ada. Jikapun esensi roti tetap maka penggunaan kata “inilah” dipandang tidak tepat. Artinya, penunjukkan “roti” ini sebagai tubuh Yesus bagi setiap orang yang memakannya merupakan penunjukkan yang tidak tepat. Apalagi mereka (para penganut Katolik) sebelum munculnya Protestan merupakan mayoritas penganut Kristian di dunia, bahkan sampai sekarang pun jumlah mereka tetap paling banyak.
[408]Jamuan Paskah atau makanan Tuhan (Ekaristi) merupakan salah sate ideologi dasar keimanan Kristen. Menurut mereka pada hari penangkapan Yesus sebelum pergi ke bukit Golgota, Yesus mengadakan jamuan makan bersama murid-murid-Nya. Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya. Roti yang dimakan itu diyakini sebagai makanan Tuhan, dan cawan yang diminum diyakini sebagai cawan Tuhan. Mereka juga meyakini, bahwa siapa saja yang mengadakan jamuan makan Paskah pada setiap tahunnya, maka roti yang dimakan itu berubah menjadi daging Yesus dan menjadi bagian dari daging mereka. Begitu jug-a, cawan yang diminum berubah menjadi darah Yesus dan menjadi bagian dari darah mereka. Dengan demikian, terjadi perserikatan antara Yesus dengan para penganut Kristiani. Itulah sebabnya, Ekaristi merupakan prosesi penyatuan dengan Roh Kudus. Ekaristi memberi andil bagi masuknya Roh suci ke dalam tubuh-tubuh mereka.
Secara kasat mata—seperti yang dibuktikan oleh para penganut Protestan—perubahan wujud roti dan cawan kepada tubuh dan darah Yesus merupakan suatu keyakinan yang salah kaprah. Sebab di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Begitu juga halnya dengan keyakinan tentang trinitas (bersatunya tiga unsur Tuhan) sebagai keyakinan yang keliru, terlebih apabila dipandang secara rasio.
Jika kalangan Protestan berkata: Bukankah kita termasuk orangorang yang rasional? Lalu bagaimana kita dapat membuktikan secara rasio bahwa keyakinan para penganut Katolik itu sebagai sesuatu yang mustahil?
Kami berpendapat: Bukankah para penganut Katolik juga merupakan orang-orang rasional seperti kamu (baca: orang-orang Protestan) dimana jumlah mereka sampai sekarang dan apalagi dahulu merupakan jumlah yang lebih banyak dari yang lainnya? Lalu, bagaimana mereka menyepakati terhadap sesuatu yang sesungguhnya tidak benar dan diketahui kekeliruannya berdasarkan penilaian kasat mata? Dengan demikian keyakinan mereka itu jelas-jelas salah dan keliru. Kekeliruan ini dapat dilihat dari beberapa segi.
(Pertama), Para penganut mazhab Katolik mengklaim bahwa roti itu sendiri dapat berubah ke dalam tubuh dan darah Yesus, dan kemudian berubah menjadi sosok Yesus yang sempurna.
Saya berpendapat: Apabila roti berubah menjadi sosok Yesus sempurna,—yang hidup dengan ketuhanan dan kemanusiaan-Nya— diambil dari Maria, maka tentunya dalam roti itu terkandung unsurunsur phisikal manusia, dimana di dalamnya ada kulit, tulang, darah dan lain-lain. Akan tetapi, dalam kenyataannya unsur-unsur phisikal manusia tidak terdapat dalam roti. Unsur-unsur roti tetap saja begitu sebagaimana yang kita lihat. Siapapun yang melihat atau memegang roti itu maka is tidak akan merasakan apapun selain roti itu sendiri. Jika seseorang menyimpan roti itu lalu roti itu membusuk, maka kebusukan itu tidak menimpa kepada wujud phisikal orang itu. Jikapun perubahan itu dimungkinkan, maka perubahan Yesus menjadi roti, bukan roti menjadi Yesus. Jika mereka berkata: Yesus berubah menjadi roti maka perubahan itu lebih diterima ketimbang roti menjadi Yesus, meskipun secara rasio kedua-duanya merupakan sesuatu yang impossible.
(Kedua), Hadirnya Yesus pada tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan meski dianggap mungkin terjadi secara lahuti (dilihat dari dimensi ketuhanan-Nya), tetapi is menjadi tidak mungkin dilihat dari dimensi kemanusiaannya. Bagaimana mungkin sebuah sosok manusia seperti kita -yang suka makan, minum, tidur dan mempunyai perasaan takut dan lain-lain— berpindah-pindah ke berbagai tempat pada waktu yang bersamaan? Ironisnya, sebelum Yesus naik ke langit kita tidak pernah mendengar bahwa Ia berada di beberapa tempat pada waktu bersamaan. Begitu juga setelah Ia naik ke langit, tidak pernah tersiar berita bahwa Yesus berada dimana-mana. Lalu, setelah berjalan sekian abad kemudian, tiba-tiba muncul pemikiran bahwa Yesus berada di berbagai tempat dalam waktu bersamaan. Jelas, keanehan ini tidak dapat ditolelir oleh siapapun.
(Kea’s-a), Apabila kita melihat jutaan pendeta, pastor dan Uskup di seluruh dunia dimana pada waktu bersamaan melakukan pensuciandengan jamuan Paskah atau Ekaristi—sehingga terjadi perubahan wujud kepada Yesus yang dilahirkan dari seorang perawan maka masing-masing dari mereka berubah menjadi wujud Yesus atau membentuk Yesus lainnya. Kemungkinan membentuk Yesus-Yesus lain jelas merupakan hal yang batil. Sedangkan kemungkinan masing-masing mereka menjadi Yesus dalam waktu bersamaan juga dipandang tidak mungkin terjadi. Sebab materi apapun berbeda dari materi lainnya.(Keempat), Apabila perubahan roti menjadi sosok Yesus sempurna dilakukan setelah pendeta atau Uskup memecah-mecahkan roti sehingga menjadi roti-roti yang jumlahnya banyak, maka hal itu tidak akan keluar dari dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, berarti Yesus dipecah-pecah atau dibagi-bagi sesuai dengan jumlah roti yang dibagi itu. Atau, kemungkinan kedua setiap pecahan itu berubah menjadi sosok Yesus sempurna. Kemungkinan yang disebut pertama tidak akan membentuk sosok Yesus sempurna. Sedangkan pada kemungkinan kedua dihadapkan kepada pertanyaan; dari mana datangnya Yesus-Yesus itu? Sebab dengan persembahan itu tidak akan diperoleh, kecuali hanya sate Yesus saja.
(Kelima), Apabila jamuan Paskah yang dilaksanakan sebelum penyaliban Yesus merupakan suatu persembahan yang menyebabkan terjadinya penyaliban itu sendiri, maka jamuan tersebut dipandang cukup untuk menebus dosa seluruh dunia. Karenanya tidak perlu lagi penyaliban di atas kayu seperti dilakukan orang-orang Yahudi. Lantaran kehadiran Yesus ke dunia diperuntukkan bagi penebusan dosa manusia melalui satu kali pengorbanan, dan kehadirannya bukan untuk merasakan kesakitan secara berulang-ulang. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam Ibrani 9:25-26, “Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia dijadikan ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.”
(Keenam), Jika benar apa-apa yang diklaim oleh mereka, maka tindakan yang dilakukan para penganut Kristen lebih jelek daripada tindakan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi hanya menyakiti Yesus sekali saja dan kemudian meninggalkan jasad Yesus dan tidak memakannya. Tetapi orang-orang Kristen setiap hari menyakiti Yesus dan mengorbankannya di berbagai tempat yang berbeda. Jika seseorang melakukan pembunuhan terhadap Yesus sekali saja maka is kalif dan dilaknat. Lalu bagaimana halnya dengan orang-orang yang setiap hari memakan daging dan meminum darah Yesus?
Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan orang-orang yang memakan Tuhannya dan meminum darah-Nya. Jika Tuhan mereka tidak dapat menolong mereka lantaran Ia sendiri lemah dan miskin sehingga harus disalib, maka siapa yang akan menolong? Perhatikan sebuah pepatah bahwa “kecintaan yang membabi buta sama seperti keingkaran yang sesungguhnya.”
(Ketujith) Dalam Kitab Lukas 22:19 disebutkan kata-kata Yesus pada waktu jamuan Paskah, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Perbuatan ini menjadi peringatan akan Aku. “Jika jamuan itu merupakan bentuk dari korban itu sendiri, maka jamuan itu tidak lagi menjadi peringatan. Sebab sesuatu tidak menjadi peringatan bagi dirinya sendiri.
Orang-orang yang sehat akalnya menganggap jamuan itu sebagai sebuah Hum: Apabila mereka berilusi dalam Zat Tuhan atau berilusi dalam akal-akal mereka sendiri maka mana di antara keduanya yang paling mustahil? Di sini saya tidak perlu mengomentari ini dan saya cukup menyoroti pandangan para ilmuan Protestan saja. Bahwa, orangorang cerdas di antara mereka bersepakat terhadap suatu keyakinan yang bertentangan dengan akal dan inderawi karena taklid kepada nenek moyang mereka. Mereka juga telah bersepakat terhadap teologi trinitas yang sesungguhnya bertentangan dengan penilaian akal sehat.
Tetapi demikian, banyak orang yang diklaim oleh mereka sebagai orang-orang mu/hid memperolok teologi trinitas. Jumlah orang-orang seperti itu di zaman sekarang cukup banyak, dan jumlah mereka lebih besar ketimbang jumlah penganut Protestan atau bahkan penganut Katolik sekalipun. Mereka yang menertawakan teologi trinitas adalah orang-orang yang cerdas, yang kemudian meninggalkan mazhab Protestan lantaran melihat kerancuan dalam teologi itu. Selain mereka juga terdapat sekelompok aliran—yang merupakan pecahan dari Kristen—menolak teologi Trinitas. Orang-orang Islam dan Yahudi, dulu maupun sekarang, memandang teologi ini sebagai impian yang kacau.
Permasalahan kee.nam: Secara umum banyak kata-kata Yesus yang sulk dipahami orang-orang yang sezaman dengannya atau murid-mundnya. Kata-kata yang ditafsirkan pada umumnya dapat dipahami. Sedangkan kata-kata yang tidak ditafsirkan sebagian dipahami dan sebagian lagi tidak dapat dipahami sama sekali.
Dalam Kitab Yohanes 2:19-22 disebutkan percakapan Yesus dengan orang-orang Yahudi yang meminta mukjizat. “[19] Jawab Yesus kepada mereka, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan men-dirikannya kembali. [20] Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya, “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau akan membangunnya dalam tiga hari? [21] Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri. [22] Kemudian sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-muridNya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. Berdasarkan teks ini para murid Yesus dan juga orang-orang Yahudi tidak dapat memahami maksud kata-kata Yesus itu. Mereka baru dapat memahami setelah Yesus bangkit dari kuburnya.
Dalam Kitab Yohanes 3:1-13 disebutkan percakapan Yesus dengan Nikodemus, seorang Farisi yang menjadi pemimpin agama Yahudi. Kata Yesus kepada Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari Tuhan, maka ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Nikodemus tidak dapat memahami maksud kata-kata Yesus itu, dan kemudian Nikodemus berkata, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Lalu Yesus menjelaskan kembali maksud dari kata-kata-Nya. Tetapi, lagi-lagi Nikodemus tidak dapat memahami kata-kata tersebut. “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?, kata Nikodemus lagi. Jawab Yesus, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
Yesus Kristus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Barangsiapa makan daripadanya, ia tidak akan mad. Ia akan hidup selama-Iamanya dan rod yang Kuberikan ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan. Maka kata Yesus kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zarnan. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku hidup oleh Bapa, demikian juga Barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari muridmurid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Karenanya banyak di antara murid-murid Yesus yang mengundurkan diri. Kisah ini diceritakan secara terpisah dalam Kitab Yohanes 6:32-65. Jelas sekali orang-orang Yahudi tidak dapat memahami kata-kata Yesus, begitu juga para murid Yesus kesulitan mencerna kata-kata itu, dan bahkan di antar mereka banyak yang mengundurkan diri.
Dalam Kitab Yohanes 8:21, 22, 51, dan 52 disebutkan kata-kata Yesus yang juga sulit dipahami. “[21] Yesus berkata kepada orang banyak, “aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mad dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” [22] Maka kata orang-orang Yahudi itu, “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin Aku pergi? [5]1 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-Iamanya.” [52] Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mad dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Dalam teks ini disebutkan keadaan orang-orang Yahudi yang tidak memahami maksud kata-kata Yesus, dan karena itu di antara mereka ada yang menuduh Yesus pendusta.
Dalam Kitab Yohanes 11:11-14 disebutkan kata-kata Yesus yang tidak dipahami oleh murid-murid-Nya. ” [11] Ia berkata kepada mereka, 127arus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi kesana untuk membangunkan dia dari tidurnya. [12] Maka kata murid-murid itu kepada-Nya, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” [13] Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalarn arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. [14] Karena itu Yesus berkata dengan terns terang, “Lazarus sudah coati.”
Dalam Kitab Matius 16:6, 7, 8, 11, dan 12 disebutkan kata-kata Yesus yang tidak dipahami oleh para murid-Nya, dan kemudian Yesus sendiri menjelaskannya. “[6] Pada waktu murid-murid Yesus menye-berang danau, mereka lupa membawa roti. Yesus berkata kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi-ragi orang Farisi dan Saduki. [7] Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain, “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak membawa roti.” [8] Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orangorang yang kurang percaya! [11] Bagaimana mungkin kamu tidak mengerti bahwa bukan roti yang Kumaksudkan. Aku berkata kepadamu: Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. [12] Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksud-Nya supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki.”
Dalam Kitab Lukas 8:52-53 diceritakan tentang keadaan seorang anak kecil yang dihidupkan kembali oleh Yesus dengan seizin Tuhan. [52] Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi, Yesus berkata, “Jangan menangis, ia tidak mati tetapi tertidur. [53] Mereka menertawakan Dia, karena mereka tabu bahwa anak itu telah mati.” Pada kedua teks ini orang-orang tidak memahami maksud dari kata-kata Yesus, dan karenanya mereka menertawakan-Nya.
Dalam Kitab Lukas 9:44-45 disebutkan kata-kata Yesus kepada murid-murid-Nya. “[44] Dengarkanlah dan camkanlah segala perkataanKu ini: Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. [45] Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.” Kedua teks ini menunjukkan ketidakpahaman murid-murid Yesus atas kata-kata guru mereka. Dan mereka tidak menanyakan arti kata-kata yang disampaikan gurunya lantaran takut.
Dalam Kitab Lukas 18:31-34 disebutkan pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus. “[31] Yesus memanggil kedua belas murid Nya, lalu berkata kepada mereka, “Sekarang kita pergi ke Yerussalem dan segala sesuatu ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. [32] Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olok, dihina, dan diludahi. [33] dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit. [34] Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu. Arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.”
Pada teks ini juga diceritakan mengenai ketidakpahaman para murid Yesus akan kata-kata gurunya. Padahal pemberitaan itu disampaikan untuk kedua kalinya. Barangkali ketidakpahaman mereka terjadi lantaran mereka mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa Yesus akan menjadi seorang Raja yang besar. Ketika mereka semua beriman kepada Yesus dan membenarkan keberadaan-Nya sebagai seorang nabi, maka mereka mengira bahwa Yesus akan menduduki tahkta kerajaan. Mereka mengira akan masuk dalam jajara keluarga kerajaan, sebab Yesus sendiri telah menjanjikan kepada mereka untuk menempati dua belas takhta kerajaan. Masing-masing dari mereka akan memerintah terhadap satu golongan dan dua belas golongan Bani Israel. Akan tetapi, berita ini bertentangan dengan harapan dan dugaan mereka, karena itulah mereka tidak dapat memahami kata-kata Yesus. Dan mengenai harapan kedua belas murid Yesus akan dijelaskan kemudian.
Di samping kata-kata itu, juga terdapat dua pernyataan Yesus yang tidak jelas bagi murid-muridnya. Ketidakjelasan ini berlanjut sampai mereka semuanya meninggal dunia. Pertama, Mereka meyakini bahwa Yohanes tidak akan mati sampai datangnya hari kiarnat. Kedua, Mereka meyakini bahwa kiamat akan terjadi pada masa mereka. Keyakinan yang disebut terakhir ini sebagaimana telah dijelaskan secara rinci dalam bab I.
Yang jelas, kata-kata Yesus Kristus itu sendiri tidak terpelihara dalam kitab-kitab Injil. Dalam terjemahan versi Yunani, misalnya, kata-kata itu Yesus dipahami berdasarkan pemahaman penerjemahnya sendiri. Permasalahan ini telah diketahui secara rinci dalam Bab II, Bagian 3, kesaksian 18 bahwa Injil Matius tidak ada teks aslinya, dan yang ada hanya terjemahannya saja. Dan sampai sekarang tidak diketahui secara pasti nama pengarang kitab itu. Begitu juga halnya dengan kitab-kitab lainnya dimana tidak ada sanad yang bersambung yang menyebutkan bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh Marku, Lukas atau Yohanes. Ironisnya ditengah ketidakpastian itu justru penyelewengan dan pemalsuan diyakini menimpa kitab-kitab itu, Para ahli agama Kristen bahkan secara sengaja memalsukan kitab-kitab itu untuk memperkuat masalah-masalah yang menjadi klaim mereka atau untuk membantah terhadap orang-orang yang tidak senang kepada mereka.
Berdasarkan argumen yang kuat telah diketahui pula tindakan pemalsuan mereka terhadap doktrin trinitas dimana secara rinci dijelaskan pada bagian 2, kesaksian 31. Mereka menambahkan redaksi ban’ dalam Surat 1 Yohanes 5:7-8 bahwa “di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi.”
Mereka menambahkan kata-kata “darimu” dalam Lukas I: 35, “Rob Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan dilahirkan (darimu) itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Mereka juga membuang satu kata dari Manus 1:11, yakni kata “Yoyakhim.” Teks ini selengkapnya, “Yosia memperanakkan Yoyakhim dan Yoyakhim memperanakkan Yekhonya.” Tetapi oleh mereka ditulis dengan redaksi,”Yosia memperanakkan Yekhonya.” Mereka juga telah membuang satu ayat penuh dari kitab Lukas 22:43. Ayat yang dibuang adalah, “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepadaNya.” Ayat ini dibuang sebab “pernberian kekuatan dari malaikat kepada Tuhan” dapat menegaskan dimensi ketuhanan-Nya. Dengan demikian, jikapun ditemukan dalam sebagian kata-kata Yesus keterangan yang dinilai samar dan menunjukkan kepada doktrin trinitas maka kata-kata itu tidak dapat dijadikan pegangan. Dan untuk lebih rincinya keterangan ini akan dibahas dalam permasalahan kedua belas dari pendahuluan bab IV.
Permasalahan ketujuh: Terkadang akal tidak mampu mengetahui esensi sebagian benda sebagaimana adanya. Tetapi demikian esensi itu ditetapkan berdasarkan kemungkinannya, dan tidak dapat dipastikan keberadaannya disaat esensi benda dipandang mustahil adanya. Karena itu, benda tersebut dikategorikan ke dalam benda-benda mungkin adanya (mumkinat). Terkadang pula ketiadaan esensi suatu benda ditetapkan berdasarkan argumen atau secara aksiomatis, sehingga keberadaan benda itu dipandang mustahil. Dan karenanya yang disebut terakhir ini dikategorikan ke dalam benda-benda tidak mungkin adanya (mumtaniat).
Kategori kedua disebut mumtarn’at, yakni berkumpulnya dua esensi yang bertentangan. Di antara benda yang termasuk kategori ini adalah berkumpulnya “satu” dan “banyak” dalam satu pribadi pada waktu bersamaan dan tempat yang sama. Atau berkumpulnya genap dan ganjil, atau berkumpulnya dua pribadi yang berbeda, atau berkumpulnya dua hal yang bertentangan seperti cahaya dan kegelapan, hitam dan putih, panas dan dingin, kering dan basah, buta dan melihat, diam dan gerak dalam sebuah pribadi dalam waktu dan tempat yang bersamaan. Kemustahilan berkumpulnya kategori mumtaniat ini ditetapkan secara aksiomatis oleh akal. Termasuk kategori mumtaniat juga adalah daur dan tasalsul. Keduanya ditetapkan batilnya oleh dalil qath`i.
Permasalahan kedelapan: Apabila ada dua pernyataan bertentangan, maka keduanya harus digugurkan apabila tidak mungkin ditakwil, atau ditakwil salah satunya. Pemakaian mekanisme takwil ini pun disyaratkan agar tidak menyeret kepada dusta. Sebagai contoh, ayat-ayat yang menunjukkan kepada antropomorfisme bertentangan dengan ayat-ayat yang menunjukan kepada pensucian (tanzih). Terhadap kedua ayat ini maka harus dilakukan penakwilan, sebagaimana dinyatakan dalam permasalahan ketiga. Tentunya takwil itu tidak membawa kepada kesimpulan bahwa Tuhan disifati dengan dua sifat, yakni jismiyah dan tanzih. Jika takwil akal tidak mampu menghilangkan dua hal yang berlawanan itu maka takwil tersebut dipandang cacat dan harus ditolak.
Permasalahan kesembilan: Ketika suatu bilangan merupakan bagian dari kuantitas maka ia tidak dapat berdiri sendiri, tetapi terkait dengan yang lainnya. Dan segala sesuatu dipastikan terkait dengan satuan atau bilangan. Begitu juga substansi-substansi yang ada secara sempurna dengan kesempurnaan dirinya, yang dipersonifikasikan oleh kepribadiannya maka ia terkait dengan banyaknya hakikat. Jika demikian maka ia tidak terkait dengan satu hakikat saja, tetapi terkait dengan dua atau banyak hakikat. Kalau dikatakan; ia terkait dengan satu hakikat saja maka berkumpulnya dua hakikat yang berbeda menjadi hal yang mesti sifatnya. Pembahasan ini sebagaimana disebutkan dalam permasalahan ketujuh.
Memang benar, suatu kuantitas terkait dengan asumsi. Jumlah keseluruhan itu semuanya diasumsikan sebagai satu hakikat. Tetapi demikian, sesungguhnya asumsi itu terdiri dari hakikat-hakitat.
Pennasalahan kesepuluh: Pertentangan antara kith dengan penganut doktrin trinitas tidak akin terjadi apabila mereka tidak mengklaim trinitas dan Tauhid sebagai dua hakikat yang sama. Apabila mereka berkata, trinitas sebagai hakikat dan tauhid sebagai bukan hakikat (i`tibari) maka tidak ada pertentangan antara kita dengan mereka. Sebab mereka jelas-jelas masuk kepada kaum heretik (musyrikin). Akan tetapi, mereka berkata bahwa trinitas dan tauhid kedua-duanya merupakan hakikat, seperti yang dikatakannya dalam buku karangan cendekiawan Protestan. Pendeta Pfander dalam bukunya Hal al-Isykal volume I mengatakan bahwa orang-orang Kristen menganggap ajaran tauhid dan trinitas sebagai dua hakikat.
Permasalahan kesebelas: Menurut al-Maqrizi dalam bukunya alKhuthat409 tentang penjelasan golongan-goiongan Kristen yang berkeinbang di zamannya bahwa Kristen mempunyai beberapa kelompok; Malkaniyah, Sekte Nestoria (oleh Nestorius berdiri pada abad 4), Sekte Yakobit (oleh Yakobus Baradueus berdiri pada abad 4), Buzaniyah, Markuliyah. Dua yang disebut terakhir adalah kelompok yang mendiami
wilayah Haran.
Sekte Malkaniyah, Sekte Nestoria dan Sekte Yakobit sepakat bahwa Tuhan mereka terdiri dari tiga unsur. Ketiga unsur itu berada dalam satu, yakni substansi yang kekal. Artinya, Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Tuhan Esa. Menurut mereka, Tuhan Anak bersatu dengan manusia dan karenanya Tuhan Anak dan sekutunya itu berada dalam satu Yesus. Dan Yesus sendiri merupakan tuhan bagi hamba-hamba itu. Kemudian mereka berbeda pendapat tentang sifat “persekutuan” ; menurut sebagian dari mereka persekutuan itu terjadi antara substansi ketuhanan dan substansi kemanusiaan. Hasil persekutuan itu jadilah Yesus Kristus. Persekutuan keduanya tidak keluar dari substansi dan unsurnya. Karenanya, Yesus adalah Tuhan yang berhak disembah sekaligus anak manusia yang dilahirkan dari perut Maria yang kemudian la dibunuh dan disalib. Dengan demikian tragedi penyaliban itu terjadi atas Yesus balk sebagai Tuhan maupun sebagai manusia.
Menurut Sekte Nestoria, Yesus terwujud setelah persekutuan dua substansi, yakni substansi ketuhanan dan kemanusiaan. Sementara itu pembunuhan dan penyaliban yang menimpa Yesus terjadi dari sisi kemanusiaannya dan bukan dari sisi ketuhanannya. Sedangkan Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus merupakan cerminan dari sisi kemanusiaannya. Sekte Nestoria menambahkan bahwa Yesus dengan kesempurnaannya adalah Tuhan yang disembah dan Dia adalah Anak Allah.
Kelompok lain berpendapat bahwa persekutuan itu terjadi antara dua substansi, yakni ketuhanan dan kemanusiaan. Yang disebut pertama merupakan substansi yang tidak terbagi-bagi. Kelompok lain ber
4°9 Yaitu buku al-Mawa’izh wa aM’tibar 6 Dzikri al-Khuthath rta abAtsar (Perlajaran dan Cermin dari Sejarah dan Peninggalan Masa Lalu) pendapat bahwa persekutuan itu terjadi atas penyatuan Tuhan Anak dalam tubuh dan bercampur dengannya. Kelompok lain berpendapat persekutuan itu ibarat tulisan relief yang tertera dalam tanah hat, atau tulisan dalam stempel yang menempel di kertas, atau seperti gambar manusia yang muncul dalam cermin. Dan masih banyak lagi pendapatpendapat lain yang intinya menyebutkan persekutuan itu tidak dijumpai pada persekutuan-persekutuan lainnya.
Kelompok Malkaniyah dinisbahkan kepada pemimpin Roma. Penduduknya disebut Malkaniyah atau Mulkaniyah dan dipimpin oleh seorang Paus atau yang dikenal dengan Paus Katolik. Menurut mereka Allah adalah nama bagi tiga makna, yakni satu dalam tiga dan tiga dalam satu.
Kelompok Yakobit dinisbahkan kepada seseorang yang bernama Yakobus Baradueus (w. tahun 578 M). Pengikut Yakub ini tersebar di Siria dan di Mesir. Orang yang pertama menisbahkan kelompok Kristen ini kepada Yakub adalah Said bin Patrik (w. 328 H/940 M).
Sedangkan menurut kelompok Markuliah, Allah adalah Esa dan ilmu-Nya tentang yang lain-Nya adalah kekal bersama-Nya. Sedangkan Yesus Kristus adalah Anak Allah sebagai rahmat (bagi manusia). Se-bagaimana dikatakan Ibrahim, Kekasih Allah.
Jelaslah bahwa pandangan mereka mengenai hubungan antara ketiga unsur itu sangat berbeda-beda. Karenanya kita dapat melihat berbagai argumen yang bertebaran dalam buku-buku umat Islam. Dan mengenai klaim trinitas berdasarkan pendapat kelompok Markuliyah, kiranya kita tidak terlalu apresiatif untuk membantahnya, kecuali hal-hal kecil yang terkait dengan akurasi penisbahan kata-kata yang meragukan saja.
Sementara itu, ketika kelompok Protestan mengetahui penjelasan mengenai hubungan antar ketiga unsur itu sebagai suatu hubungan yang kacau, maka mereka meninggalkan pendapat-pendapat para pendahulunya itu. Akan tetapi, mereka sendiri tidak mempu menampilkan penjelasan yang akurat dan dapat dijadikan pegangan. Karenanya, mereka lebih memilih diam dan tidak menjelaskan hubungan ketiga unsur itu.
Permasalahan keduabelas: Umat-umat terdahulu dari Adam sampai Musa dipastikan tidak memrlilci keyakinan seperti teologi trinitas. Tidak ada ayat atau teks dan kitab-kitab terdahulu yang menjadi pegangan bagi klaim trinitas. Kekacauan para penganut teologi Trinitas-lah yang sesungguhnya menyesatkan diri mereka sendiri. Jika pun mereka menunjukkan argumen dari Kitab Kejadian, maka ketahuilah sesungguhnya argumen itu tidak ada. Yang ada hanyalah penyelewengan atau pemal suan terhadap makna kitab itu. Pengambilan mereka terhadap makna itu sesungguhnya sangat kabur dan tidak berdasar.
Meski demikian, saya tidak menyebutkan mereka sebagai orangorang yang sepi dari argumen kitab-kitab suci. Saya hanya menyebutkan bahwa klaim mereka terhadap teologi trinitas yang dipegang oleh umatumat terdahulu, dari Adam sampai Musa, sebagai klaim yang tidak berdasar. Sebab kites semua tahu bahwa dalam syariat Musa dan umatnya tidak ada klaim tentang teologi trinitas. Tidak ada ayat dalam kitab-kitab Taurat yang menunjukkan kepada teologi trinitas.
Sampai akhir hayatnya, Yahya sendiri (atau disebut Yohanes) ragu terhadap keberadaan Yesus Kristus sebagai yang dijanjikan Tuhan. Ini dapat dilihat dari teks Matins 11:2-3, “Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Jika benar Yesus sebagai Tuhan, maka keragu. an Yohanes menunjukkan suatu perbuatan kufur, karena ragu kepada Tuhan adalah kufur. Bagaimana Yohanes tidak mengetahui Yesus sebagai Tuhannya padahal is diklaim sebagai nabi-Nya? Bukankah dalam Kitab Mathis 11:11 disebutkan bahwa Yohanes adalah nabi yang paling utama berdasarkan kesaksian Yesus. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Dengan demikian, Yohanes sebagai seorang nabi yang dipilih Yesus sendiri tidak tahu tentang hakikat sebenarnya dari Yesus. Jika orang yang terdekat dan sezaman saja tidak tahu tentang Yesus, maka apalagi orangorang terdahulu. Para cendekiawan yang hidup di zaman Musa sampai sekarang juga tidak tahu tentang ketuhanan Yesus. Yang jelas, Dzat Allah dan sifat-Nya yang sempurna adalah kekal, tidak berubah, serta keberadaan-Nya azali dan abadi. Jika klaim tentang trinitas benar, tentunya Musa dan para nabi lainnya diwajibkan untuk menjelaskan kepada umatnya tentang kebenaran teologi ini.
Ironis memang, syariat Musa yang notes bene syariat yang harus diikuti oleh umat manusia sejak. Musa sampai Yesus, tidak menjelaskan sedikitpun tentang teologi trinitas.Tidak seorang pun dari nabi-nabi itu, baik Nabi Musa ataupun nabi dari kalangan Israel lainnya yang menjelaskan tentang keberadaan dan kebenaran teologi trinitas. Karenanya, siapa pun tidak akan dapat menolong dan membuktikan kebenaran teologi Trinitas manakala tidak ada penjelasan atau pengakuan dari nabi-nabi lainnya.
Justru yang dijelaskan oleh Musa adalah hukum-hukum atau syariat yang dipandang lemah oleh Paulus. Hukum-hukum yang dijelaskan Musa adalah hukum-hukum abadi seperti tercantum dalam the ten cornandement, sehingga siapa pun yang menolak dan meningglkan hukum-hukum itu harus dibunuh. Di sini terlihat sekali bagaimana para pembela teologi Trinitas, seperti Paulus, menolak hukum-hukum Musa yang sesungguhnya menjadi pegangan Musa. Paulus justru memegang hukum-hukum yang tidak disyariatkan oleh Musa dan menjustifikasikan sebagai syariat Musa.
Ironisnya lagi; Yesus sendiri tidak pernah menjelaskan tentang teologi Trinitas sampai diangkat ke langit. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa “Tuhan adalah tiga unsure yang bersatu, yakni Bapa, Anak, dan Rob Kudus. Yesus juga tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah pribadi yang mempunyai dua kualitas, yakni kuahths ketuhanan dan kemanusiaan. Juga, Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Atau Yesus mengatakan kata-kata lain yang dapat di-pegang oleh para penganut teologi itu.
Pendeta Pfander dalam bukunya Miftah al -srarmengatakan bahwa jika dikatakan: mengapa Yesus tidak pernah menjelaskan tentang sisi ketuhanan-Nya dan mengapa Yesus tidak menjelaskan bahwa “Aku
adalah Tuhan?” Tentang pertanyaan pertama, kami tidak berkompeten menjelaskan. Sedangkan jawaban mengenai pertanyaan yang disebut terakhir adalah bahwa tiada seorang pun yang dapat memahami hubung an ini sebelum Yesus sendiri bangkit dari kematian dan naik ke langit. Jika Yesus menjelaskan bahwa “Aku adalah Tuhan”, maka orang-orang akan memahami sisi ketuhanan Yesus sebagai ketuhanan phisikal, yakni Tuhan yang dapat dilihat secara kasat mata. Dan ini jelas merupakan sesuatu yang batil. Tuntutan seperti ini merupakan tuntutan yang juga dikatakan kepada murid-murid-Nya bahwa “[12] Masih banyak hal yang harus Ku-katakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. [13] Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakan-Nya dan la akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Kemudian kata Pfander lagi bahwa para pembesar agama Yahudi scat itu hendak mengambil dan merajam Yesus. Dalam keadaan seperti itu bagaimana mungkin Ia akan menjelaskan ketuhanan-Nya secara terang-terangan di hadapan orangorang yang hendak mencincang-Nya.
Dan kata-kata pendeta Pfander di atas, terdapat dua pernyataan yang saya nilai rancu dan kabur. Pertama, pernyataan tentang ketidakmampuan menjelaskan sebelum naik ke langit. Kedua, pernyataan tentang ketakutan dari orang-orang Yahudi. Kedua pernyataan ini sangat lemah dan tidak berdasar.
Pernyataan Pertama bahwa kemampuan menjelaskan ini disinyalir cukup untuk menghilangkan keraguan,—bahwa hubungan antara dua pribadi (Bapa dan Roh Kudus) serta unsur Anak—sebagai suatu penjelasan yang berada di luar kemampuan kamu (baca: orang-orang Kristen). Artinya, Jikapun Yesus menjelaskan hubungan itu maka orang-orang tidak akan mengerti, sebab itu berada di luar logika yang benar. Karenanya, penjelasan Yesus tidak diperlukan. Dan justru yang harus dicamkan dari ketidakmampuan Yesus menjelaskan ini adalah bahwa “Aku (baca: Yesus) bukanlah Tuhan”, dan Aku (baca: Yesus) juga tidak mempunyai hubungan dengan kedua unsur lainnya seperti yang dipahami orangorang setelahku (penganut Trinitas).
Sedangkan mengenai ketidakmampuan Yesus menjelaskan diri-Nya sebagai Tuhan, maka ketidakmampuan ini berlanjut sampai Ia sendiri diangkat ke langit. Sampai sekarang pun tidak ada seorang pun dan para ilmuan atau cendekiawan Kristen yang tahu bagaimana hubungan antara Yesus sebagai Tuhan dan keesaan Tuhan itu sendiri. Jika ada orang yang berkata bahwa is mampu menjelaskan masalah ini, maka ketahuilah bahwa perkataan itu hanyalah dugaan yang menyebabkan kehancuran pilar-pilar teologis. Ketahuilah, penjelasan yang mengada-ada itu hanyalah membawa kepada tragedi penghancuran terhadap basis-basis teologis yang sebenarnya. Karena itu, cukup dimaklumi apabila orangorang Protestan sendiri tidak dapat menjelaskan hubungan antara ketiga unsur Tuhan itu. Saya juga melihat dalam beberapa karangan pendeta Pfander bahwa masalah trinitas merupakan masalah yang berada di luar jangkauan akal dan rasio.
Adapun pernyataan kedua dari pendeta Pfander, yakni ketiadaan penjelasan Yesus mengenai ketuahan-Nya disebabkan ketakutan terhadap orang-orang Yahudi, karena Yesus sendiri bagi mereka tiada lain merupakan sosok penebus dosa manusia. Orang-orang Yahudi akan menyalib dirinya, dan Yesus sendiri tahu bahwa mereka akan membunuh dan menyalib dirinya. Ketika Yesus sendiri tahu bahwa orangorang Yahudi akan menyalib dirinya maka sesungguhnya tidak ada alasan untuk takut menjelaskan teologi ini. Ironis sekali apabila Yesus yang diklaim sebagai Tuhan takut terhadap hamba-hambanya yang notabene kaurn paling bejat didunia. Sungguh ironis, sementara hambahamba yang lainnya seperti Nabi Yeremia, Yesaya, dan Nabi Yahya (Yohanes) tidak takut untuk mengungkapkan kebenaran meski mereka menghadapi siksaan yang teramat pedih dan sadis. Ketiga nabi ini rela dibunuh demi untuk menjelaskan keberanaran yang mereka bawa. Sementara Yesus justru takut menyatakan kebenaran itu. Jelaslah, ketidakmampuan Yesus menjelaskan dirinya sebagai Tuhan menunjukkan bahwa dirinya bukanlah Tuhan, atau Anak Tuhan.
Sungguh ironis apabila Yesus dikatakan takut menjelaskan masalah besar ini. Padahal Yesus sendiri sangat keras untuk mengajak orangorang berbuat kebajikan dan mencegah kemunkaran. Perhatikan katakata Yesus kepada orang-orang, seperti kata-kata “celakalah kamu, hai para pemegang kitab!”, atau “celakalah kamu, hai orang-orang Farisi yang tidak tabu malu!” Perhatikan pula kata-kata keras lainnya, seperti “celakalah kamu, hai orang-orang bodoh!; hai orang-orang dungu lagi bodoh; hai orang-orang Farisi yang dungu!; celakalah kamu, hai ulat beludak! Perhatikan juga kecaman-kecaman keras Yesus kepada ahliahli Taurat dan orang-orang Farisi, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Matius 23:13-37 dan Lukas 11:37-52. Contoh-contoh kecaman Yesus ini juga disebutkan dalam kitab-kitab lainnya. Karena itu, bagaimana pendeta itu berpikiran bahwa Yesus takut menjelaskan teologi trinitas karma Ia takut terhadap orang-orang Yahudi? Aneh dan sungguh aneh!
Dari data-data ini dapat disimpulkan bahwa Yesus sama sekali tidak pernah menjelaskan tentang teologi trinitas.
Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003