Daftar Isi Izhar Al-Haq

Bab I: Mengenal Kitab Perjanjian Lama & Perjanjian Baru

Pasal I: KLARIFIKASI NAMA-NAMA DAN JUMLAH INJIL

A. Kitab-kitab Perjanjian Lama yang Disepakati Kebenarannya
B. Kitab-Kitab Perjanjian Lama yang Diperdebatkan
C. Kitab Perjanjian Baru yang Disepakati
D. Kitab Perjanjian Baru yang Diperdebatkan

Pasal II:KLARIFIKASI TENTANG TIDAK ADANYA SANAD YANG BERSAMBUNG BAGI KITAB PERJANJIAN LAMA DAN BARU

Klaim Tidak Adanya Sanad Bersambung Bagi Kitab-Kitab Suci
I Kondisi Kitab Taurat
II. Kondisi Kitab Yosea
Hi Kondisi Kitab Hakim Hakim
IV. Kondisi Kitab Rut
V. Kondisi Kitab Nehemia
VI Kondisi Kitab Ayub
VII Kondisi Kitab Mazmur
VIII Kondisi Kitab Amsal Solomo
Kondisi Kitab Pengkhotbah
X Kondisi Kitab Kidung Agung
XL Kondisi Kitab Daniel
XII Kondisi Kitab Ester
XIII Kondisi Kitab Yeremia
XIV. Kondisi Kitab Yesaya
XV. Kondisi Kitab Matius
XVI Kondisi Kitab Markus clan Lukas
XVII Kondisi Kitab Yohanes
XVIII. Kondisi Surat Yohanes

Pasal III: KLARIFIKASI BAHWA ALKITAB PENUH KONTRADIKSI DAN KESALAHAN

A. Seratus Dua Puluh Empat Klarifikasi Kontradiksi
B. Klarifikasi tentang Seratus Sepuluh Kesalahan-kesalahan dalam Alkitab

Pasal IV: BANTAHAN TERHADAP AHLULKITAB YANG MENGKLAIM BAHWA PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU BERSUMBER DARI ILHAM

A. Argumen-argumen
B. Dua Argumentasi Pendeta Kristiani yang Menyesatkan

Bab II: Pembuktian Distorsi Injil

PENDAHULUAN

Pembahasan I:
PEMBUKTIAN DISTORSI INJIL DENGAN PENGGANTIAN KATA
Pembuktian

Pembahasan II:
PEMBUKTIAN DISTORSI INJIL DENGAN PENAMBAHAN KATA

Pembahasan III:
PEMALSUAN ALKITAB MELALUI PENGURANGAN TEKS
Bukti-bukti Pemalsuan

LIMA PERNYATAAN KELIRU YANG DIKEMUKAKAN PARA PENDETA PROTESTAN

Kesalahan Pertama: Banyaknya Pertentangan-pertentangan
Kesalahan Kedua: Persaksian Yesus Kristus
Kesalahan Ketiga: Kitab-Kitab yang Ada pada Yahudi Adalah Karangan Bohong
Kesalahan Keempat Alkitab Beredar di Barat dan di Timur, Tidak Mungkin Terjadi Pemalsuan
Hal-hal yang Mengkonfrontir Kemustahilan Terjadinya Penyelewengan Terhadap Alkitab
Kesalahan Kelirna: Naskah Kitab Suci Tersebut Tidak Pernah Berubah?

Bab III: Dalil-dalil adanya nasakh

Pasal I: PENGERTIAN NASAKH

Nasakh dalam Al Kitab yang Aneh!

Pasal II: 20 CONTOH NASAKH PADA SEORANG NABI ATAS SYARIAT NABI SEBELUMNYA

Pasal III: 12 CONTOH NASAKH PADA SEORANG NABI ATAS SYARIATNYA SENDIRI

Bab IV: Bantahan Terhadap Teologi Trinitas

Pasal I: MINTA PENJELASAN DARI 12 MASALAH PELIK

Penisbahan Kata “Allah” kepada Malaikat
Penisbahan Kata “Allah” kepada Yesus Kristus
Penisbahan Kata “Allah” kepada Musa
Penisbahan Kata “Allah” kepada Setan
Penisbahan Kata “Allah” kepada Perut
Penisbahan Kata “Allah” dengan Cinta
Penisbahan Kata “Allah” dengan Berhala, dan Guru

Pasal II: BANTAHAN TERHADAP TEOLOGI TRINITAS

BERDASARKAN ARGUMEN AKAL
Kisah Tiga Orang yang Masuk Kristen
Pendapat Fakhr ar-Razi Tentang Trinitas

Pasal III: BANTAHAN TERHADAP TEOLOGI TRINITAS BERDASARKAN BIBLE SENDIRI

Kitab Peijanjian Lama Bukanlah Merupakan Kitab Wahyu

Pasal IV: BANTAHAN TERHADAP ARGUMEN BIBLE TENTANG KETUHANAN YESUS

Beberapa Argumen tentang Ketuhanan Yesus7
Ragam Penisbahan Kata “Allah, Bapa, dan Anak” dalam Kitab Suci
Dialog Antara Imam Fakhr ar-Razi dan Para Pendeta

Bab V:Al-Qur’an Adalah Kalam Allah dan Validitas Sunnah

Pasal I: PENEGASAN BAHWA AL-QUR’AN ADALAH KALAM ALLAH

Pasal II: BANTAHAN ATAS KRITIKAN PARA PASTUR TERHADAP AL-QUR’AN

Pasal III: DALIL VALIDITAS HADITS-HADITS NABI YANG DIRIWAYATKAN DALAM KITAB-KITAB SHAHIH DARI KITAB-KITAB AHLUSUNNAH WAL JAMAAH

Sikap Orang-orang Kristen Terhadap Riwayat Lisan
Sikap Orang-orang Katolik Terhadap Riwayat Lisan
Komentar Harlord Tentang Riwayat Lisan
Apresiasi dan Komentar Para Pendahulu Kristen Terhadap Riwayat Lisan
Pengingkaran Terhadap Riwayat Lisan Sebagai Cerminan Kebodohan
Perbuatan Bid`ah (Menyimpang) yang Dilakukan Protestan
Perhatian Umat Islam Terhadap Hadits
Pembagian Hadits Shahih
Pembagian Hadits Mutawatir dan Hukumnya
Hukum Hadits Masyhur
Hukum Hadits Ahad
Perbedaan Antara Hadits Shahih dan Al-Qur’an

Pasal IV: BANTAHAN TERHADAP BEBERAPA KRITIKAN YANG DISAMPAIKAN PARA PENDETA TERHADAP HADITS

Bantahan Terhadap Kritikan Pertama
Argumen Para Pendeta
Bantahan atas Argumen Pendeta
Pandangan A1-Qur’an Tentang Para Sahabat Nab
Pemyataan Ahlulbait
Bantahan Terhadap Kritikan Kedua
Bantahan Terhadap Kritikan Ketiga
Beberapa Masalah dalam Alkitab yang Dikritisi Para Generasi Muda
Bantahan Terhadap Kritikan Keempat
Tafsiran dari Surah Adh-Dhuha Ayat (7)
Tafsir dan Surat as-Syura Ayat (52)
Cara Membuang Tambahan dalam Alkitab
Pertentangan-Pertentangan dalam Alkitab tentang Zat dan Sifat Tuhan Menurut Buku Karangan Jan Clark
Tuhan Pengasih yang Suka Membunuh
Masalah Dosa Warisan dan Kontroversi Zakharia Anak Berekhya
Tuhan yang Kuat dan Dahsyat, Tetapi Selalu Butuh Bantuan
Tuhan Mengetahui Hal-hal Gaib dengan Cara Latihan
Tuhan Tidak Berubah, Tetapi Berubah-rubah
Tuhan Adalah Hasil Perselingkuhan
Tuhan Menyuruh Berdusta
Tuhan Suka Membuka Aurat Perempuan?
Keadilan Tuhan: Membunuh Orang-orang Benar, Anak-anak Sulung dan Hewan
Tuhan Menginginkan Kebinasaan Orang-orang Fasik
Tuhan Beijanji Kepada Dunia Untuk Menyerang Bangsa Israel
Tuhan Memerintah dan Melarang Untuk Membuat Patting dari Emas
Tuhan yang Dapat Dilihat dan Tidak Dapat Dilihat
Tuhan yang Dapat Didengar Suara-Nya dan yang Tidak Dapat Didengar
Tuhan Mengeluarkan Api dan Es dan Mulut-Nya
Tuhan Seperti Belatung dan Macan Tutul
Pertentangan-pertentangan Lain

Bab VI: Dahlil Kenabian Muhammad saw

Pasal IALIL-DALIL KENABIAN MUHAMMAD SAW

Berbagai Dalil yang Membuktikan Kenabian Muhammad saw

A. Mukjizat Tentang Berita Masa Silam dan Ramalan Masa Depan

B. Mukjizat tentang Berbagai Perbuatan Luar Biasa dari Nabi saw

Isra’ dan Miajnya Nabi saw
Mukjizat Nabi saw Membelah Bulan
Sembilan Kabar Berita Aneh Alkitab yang Digunakan Para Pendeta Protestan
Delapan Belas Kabarberita-kabarberita Penguat Kedatangan Nabi Muhammad saw.
Tujuh Belas Alasan Penguat Kabar Berita Keenam
Empat Bantahan Terhadap Penafsiran Pendeta pada Matius, 21:33-45
Tiga Belas Dalil Penguat Kedatangan Nabi Muhammad saw Berdasarkan Injil Matius
Lima Kerancuan Para Pendeta Protestan

Pasal II: BANTAHAN ATAS BERBAGAI TUDUHAN DALAM MASALAH KENABIAN

A. Tuduhan Orang-orang Kristen Kepada Para Nabi

Berikut Bantahannya
Bantahan Terhadap Dugaan Perselingkuhan Lot dengan Kedua Putrinya
Argumen Kenabian Harun
Delapan Kesalahan Nabi Daud as Versi Bible!
Lima Macam Kesalahan yang Dilakukan oleh Nabi Sulaiman versi Bible!

B. Beberapa Tuduhan dan Bantahannya

Kesaksian Pedanjian Baru tentang Cemoohan Orang Kafir Terhadap Mukjizat
Bantahan Terhadap Tuduhan Mengenai Perempuan
Nasihat-nasihat Sulaiman Agar Menjauhi jerat dan Tipu Daya Perempuan
Kilas Balik jejak Asmara Yesus
Beberapa Kejanggalan pada Tuduhan Orang-orang Kristen

Tentang Buku Izhar Al-Haq

Adanya dialog atau debat akidah tidak mengharuskan timbulnya sikap perumusuhan antarsesama manusia sebagaimana tercantum di dalam Al-Quran. Dialog antaragama harus menjadi jalan yang paling indah dalam mencapai kebenaran. Dan hendaknya isu pluralisme yang didengungkan akhir-akhir ini dipahami secara positif, bukan untuk membungkam kebenaran dan membiarkan umat manusia dalam kesesatan. Inilah sikap “dewasa”; “cerdas”; “terbuka pada kebenaran”; dan “modern”.

IZHAR AL-HAQ adalah karya klasik yang berusia hampir satu abad, yang telah meredam gelora kristenisasi para misionaris pada zamannya. Hal itu ditandai dengan ditemukannya distorsi di 7 tempat dan 40.000 kontradiksi ungkapan pada Alkitab (Perjanjian Baru & Perjanjian Lama). Khazanah Dialog Islam-Kristen-Yahudi di dunia, tidak akan lengkap tanpa kehadiran buku ini. Di Timur Tengah buku ini sudah dicetak lebih dari 33 kali dan sangat dikenal oleh pemerhati dari kalangan ilmuan, akademisi, dan pembaca. Ia juga banyak melahirkan para toko kristolog kenamaan abad ini.

IZHAR AL-HAQ adalah karya Syeikh Muhammad Rahmatullah bin Kalil ar-Rahman al-Kairanawi al-’Utsmani (9 Maret 1818 – 1 Mei 1891) nasabnya sampai pada Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan (kakeknya yang ke-34). Beliau adalah seorang tokoh kristologi Islam paling menonjol dalam dialog Islam-Kristen pada abad ke 19. Buku IZHAR AL-HAQ adalah karya monumentalnya yang paling terkenal di kalangan pemerhati debat Islam-Kristen.

Kemunculannya di dunia perdebatan membuat para pendeta merasa segan dan takluk pada kepiawaiannya. Merasa resah, Inggris memberikan 1000 rupee bagi siapa saja yang dapat menunjukan tempat persembunyiannya. Beliau pun keluar dari India dan berangkat menuju Mekah (1862 M).

Izhar Al-Haq di Wikipedia

Dikutip dan disalin dari : Izhar Al-Haq Cetakan Pertama, Penerbit Cendekia Sentra Muslim.

Ditulis dalam Izhar Al-Haq. Kaitkata: . 2 Komentar »

Kitab Perjanjian Baru yang Diperdebatkan

Adapun Kitab Perjanjian Baru yang keberadaannya diperselisihkan adalah sebanyak 7 Kitab dan beberapa paragraf dari Kitab Yohanes 1. Kitab-kitab tersebut adalah sebagai berikut:

-Ibrani, atau Surat Paulus kepada kaum Ibrani
-Surat II Petrus, atau Surat Paulus kepada Petrus 2
-Surat II Yohanes
-Surat III Yohanes
-Surat Yakobus
-Surat Yudas Iskariot
-Kesaksian Wahyu, atau Wahyu kepada Yohanes.

Berkaitan dengan 7 Kitab yang diragukan itu, Dew-an Gereja telah menetapkan keputusan penguasa Konstantinopel, Kaisar Konstantin, pada tahun 32.5 M, untuk memusyawarahkan tentang eksistensi ketujuh Kitab ini. Dari hasil musyawarah itu dihasilkan keputusan bahwa Kitab Yahudet harus diterima, sementara sisanya diragukan. Keterangan ini seperti dinyatakan dalam pendahuluan sebuah buku yang ditulis oleh Jerome *. Kemudian setelah itu diadakan lagi musyawarah yang diberi nama Konsili Laodecia pada tahun 364 M, dimana hasil keputusannya adalah penerimaan Kitab Yehudet berserta 6 Kitab sisanya sebagai Kitab yang wajib diterima.

Dengan demikian melalui dua musyawarah itu kitab-kitab tersebut selurulmya diterima, kecuali Kitab Wahyu kepada Yohanes yang masih diragukan. Lalu pada tahun 397 M diadakan musyawarah melalui Konsili Kartago ** dimana anggotanya terdiri dari orang-orang temama seperti St. Augustine beserta 26 pendeta lainnya. Hasil dari musyawarah itu penetapan hasil-hasil dari dua musyawarah sebelumnya ditambah dengan penetapan Kitab-Kitab berikut; (1) Kitab Wisdom (The Book of Wisdom); (2) Kitab Tobit; (3) Barukh; (4) Kitab Ecclesiastes; (5 dan 6) dua Kitab Maccabean (Mokabi); (7) Kitab Wahyu kepada Yohanes.

Hanya raja anggota dewan ini menjadikan Kitab Barukh sebagai bagian dari Kitab Yeremia. Ini disebabkan karena Barukh as dianggap sebagai asisten dan pengganti bagi Yeremia as. Karenanya dalam ensiklopedia tidak ditulis nama Kitab Barukh.
Kemudian setelah itu diadakan tiga pertemuan, yakni Konsili Tarlo, Florence, dan Turin. Para pendeta di tiga pertemuan ini menetapkan hasil-hasil keputusan dari pertemuan sebelumnya, ditambah dengan keputusan memasukkan nama Kitab Barukh dalam ensiklopedia kitabKitab Injil. Dengan demikian Kitab Barukh yang tadinya diragukan kemudian diakui keberadaannya sampai munculnya golongan bare, Protestan.

Kitab Barukh ditetapkan sebagai Kitab yang diterima adalah setelah 1200 tahun dari Konsili ‘Cartago sampai munculnya golongan bare yang disebut Protestan. Yang terakhir disebut ini kemudian menolak hasilhasil dari ketetapan pars pendahulu mereka. Mereka menolak Kitab Barukh, Tobit, Yehudet, Wisdom, Ecclesiastes, dan Kitab Mokaben (The Maccabean). Mereka berkata bahwa kitab-kitab itu harus ditolak dan tidak diterima (Kitab-Kitab Aporipa atau non-Canonicah. Begitu jugs mereka menolak sebagian hukum yang terkandung dalam Kitab Ester, yakni 6 dari 16 bab, sementara 10 pasal lainnya diterima.

Penolakan-penolakan kaum Protestan atas kitab-kitab tersebut didasarkan kepada enam faktor:

-Kitab-kitab itu asalnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan Jalidi, dan sekarang kitab-kitab itu tidak lagi memakai kedua bahasa itu.
-Kaum Yahudi tidak menerimanya sebagai Kitab wahyu atau ilham.
-Seluruh penganut agama Kristen terdahulu tidak menerimanya.
-Menurut Jerome, kitab-kitab itu tidak cukup untuk memecahkan dan menetapkan persoalan keagamaan.
-Menurut Klous, kitab-kitab itu dibaca, akan tetapi tidak pada setiap tempat. Ini berarti bahwa sebagian besar dari penganut Masehi tidak menerimanya.
-Menurut Eusebius ***, sebagaimana dikutip dalam Bab 22 dari Kitab ke-4 bahwa kitab-kitab tersebut telah dipalsukan, terlebih Kitab II Mokabi 2.

__________________________________________________
*    Nama lengkapnya Saint Jerome yang dalam bahasa Latin “Eusebius Hieronymus” (328-420 M). Sejak kecil ia menuntut ilmu kepada guru-gurunya di Roma sehingga ia menjadi pemimpin besar gereja, sastrawan Latin paling populer, serta kritikus dan penerjemah Injil ke dalam bahasa Latin. Di antara karya monumentalnya adalah buku berjudul Inventarisasi Kejadian (The Chit:slick of Eusebius) yang merupakan referensi penting mengenai sejarah dan kejadian-kejadian masa lampau. la menulis lebih dari 150 risalah (buku catatan).
**    Kartago adalah nama kota yang terletak di pulau kecil di teluk Tunis. Biasa juga ditulis dengan memakai huruf en”, yakni Kortujana, tetapi bukan Kortujana yang berada di Spanyol. Kartago jugs dikenal dengan nama Pinokio Lama, yang didirikan pada abad IX Sebelum Masehi. Dan pada abad III M kota ini menjadi salah satu kota penting bagi agama Kristen.
***    Eusebius (uskup Kaisarea 325) adalah sejarawan Kristen.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Kitab Perjanjian Baru yang Disepakati

Adapun Kitab Perjanjian Baru, yang keberadaannya disepakati adalah beijurnlah 20 kitab. Kitab-kitab tersebut adalah:

-Kitab Injil Matius
-Kitab Injil Markus
-Kitab Injil Lukas
-Kitab Injil Yohannes.

Keempat Injil ini disebut Injil Empat. Kata Injil itu sendiri sebenarnya dikhususkan kepada keempat Kitab ini, dan terkadang dinisbahkan secara hiperbolis kepada seluruh Kitab Peijanjian Baru. Dan kata Injil itu sendiri merupakan bahasa Arab yang ditransfer dari bahasa Yunani, yakni Inkiliyoun, yang berarti penunjukan dan pengajaran.

Kata “Injil” berasal dari bahasa Yunani yang diarabkan. Artinya, penampakan kebaikan atau berita baik yang menggembirakan. Disebut demikian karena Yesus as telah memberitakan mengenai Nabi Muhammad saw. Dalam Al-Qur’an kata “Injil” diulang sebanyak 12 kali. Setelah Yesus diangkat ke langit, maka Injil yang murni yang diturunkan kepada Nabi Isa as hilang. Malta sejak itu bermunculan Injil-Injil yang ditulis oleh orangorang sehingga mencapai lebih dari seratus buah. Dan jumlah itu, gereja memilih 4 Injil; Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Keempat Kitab inilah yang dimaksudkan dengan kata “Injil” itu. Di samping itu kata “Injil” jugs dinisbahkan secara hiperbolis kepada Kitab Peijanjian Baru yang mencakup keempat Injil itu dan ditambah dengan surat-surat yang mengikutinya. Para penganut agama Kristen mengidaim keseluruhan Kitab Perjanjan Lama dan Baru sebagai Kitab Suci atau al-Muqaddas. Dan jika kits meneliti, sebenarnya dalam 141 tidak ada syariat dan hukum-hukum, karena Isa as. sendiri beramal dengan syariat Nabi Musa as.

-Kitab Kisah Para Rasul
-Kitab Roma, atau disebut Surat Paulus kepada penduduk Roma.
-Kitab I Korintus, atau Surat Paulus kepada Penduduk Korintus 1.
-Kitab H Korintus, atau Surd Paulus kepada penduduk Korintus 2
-Kitab Galatia, atau Surat Paulus kepada penduduk Galatia *
-Kitab Efesus, atau Surat Paulus kepada penduduk Efesus
-Kitab Filipi, atau Surat Paulus kepada penduduk Filipi
-Kitab Kolose, atau Surat Paulus kepada penduduk Kolose
-Kitab I Tesalonika, atau Surat Paulus kepada penduduk Tesalonika 1
-Kitab II Tesalonika, atau Surat Paulus kepada penduduk Tesalonika 2
-Kitab I Timotius, atau Surat Paulus kepada Timotius 1
-Kitab II Timotius, atau Surat Paulus kepada Timotius 2
-Kitab Titus, atau Surat Paulus kepada Titus
-Kitab Filemon, atau Surat Paulus kepada Filemon
-Kitab Petrus 1, atau Surat Paulus kepada Petrus 1
-Kitab Yohanes 1, kecuali beberapa paragraf saja.

__________________________________________
* Yakni, penduduk Galatia yang berada di Istambul, bukan di Ankara.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Kitab-Kitab Perjanjian Lama yang Diperdebatkan

Sedangkan bagian kedua dan Kitab Perjanjian Lama, yakni kitab-kitab yang diperselisihkan (Apokripa atau Non-Canonical* sebanyak 9 kitab.

-Kitab Ester **
-Barukh
-Sebagian dan Kitab Daniel
-Kitab Tobit
-Kitab Yahudet
-Kitab Wisdom ***
-Kitab Ecclesiastes ****
-Kitab I Mokaben (The Maccabean I) *****

-Kitab II Mokaben (The Maccabean II)

_____________________________________
*    Dalam istilah yang beredar sekarang bermaksud tidak diakui secara resmi. -Penerjemah
**    Ester adalah nama seorang perempuan Yahudi pada masa Kisra Kurius.
***    Wisdom artinya hikmah, atau Kitab hikmah.
****    Ecclesiastes adalah Yosea bin Sirakh.
*****    Mokaben (The Maccabean) adalah nama seseorang (yang kurang dikenal.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang Disepakati Kebenarannya

-Kitab Kejadian atau disebut Kitab penciptaan *
-Kitab Keluaran **
-Kitab Imamat
-Kitab Bilangan
-Kitab Ulangan.

Kelima Kitab ini biasa disebut Taurat. Dan kata Taurat adalah kata Ibrani yang berarti “Pengajaran dan Syariat.” Dan terkadang kata Taurat ditunjukkan kepada Kitab Perjanjian Lama secara hiperbolis.

Taurat adalah kata asing yang berasal dari “Tura” ataii “Torah” yang berarti undang-undang, pengajaran dan syariat. Dinisbahkan kepada lima kitab; kejadian, keluaran, imamat (kitab Levvi), bilangan, dan ulangan. Dalam Al-Qur’an kata Taurat diulang sebanyak 18 kali. Taurat disebut jugs dengan istilah an-namus. Secara hiperbolis Taurat dinisbahkan kepada Kitab Perjanjian Lama yang berjumlah lima Kitab ditambah dengan Kitab Para Nabi setelah Musa (yang mengikutinya) selama kurun waktu 9 abad.

-Kitab Yosua bin Nun
-Kitab Hakim-Hakim
-Kitab Rut ***
-Kitab I Samuel
-Kitab II Samuel
-Kitab I Ma-Raja
-Kitab II Raja-Raja
-Kitab I Tawarikh
-Kitab II Tawarikh
-Kitab I Ezra ****
-Kitab II Ezra, atau biasa disebut dengan Kitab Nehemia *****
-Kitab Ayub
-Kitab Zabur atau Mazmur
-Kitab Amsal Sulaiman, atau hikmah Sulaiman (baca: Solomo)
-Kitab Pengkhotbah Sulaiman
-Kitab Kidung Agung Sulaiman
-Kitab Yesaya
-Kitab Yeremia
-Kitab Elegi (Ratapan) Yeremia
-Kitab Yehezkiel
-Kitab Daniel
-Kitab Hosea
-Kitab Yoel
-Kitab Amos
-Kitab Obaja
-Kitab Yunus
-Kitab Mikha
-Kitab Nahum
-Kitab Habakuk
-Kitab Zefanya
-Kitab Hagai
-Kitab Zakaria
-Kitab Malaikhi. (Malaikhi adalah seorang nabi yang hidup sekitar 420 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa as.)

Kitab-kitab yang berjumlah 38 ****** ini diterima oleh para pendahulu dari penganut agama Kristen dan kaum Samiri. Dan 38 Kitab itu ada 7 Kitab yang tidak diterima, yakni 5 Kitab yang dinisbahkan kepada Musa as dan Kitab Yosea bin Nun, serta Kitab Hakim-Hakim. Naskah-naskah Kitab ini berbeda dengan naskah-naskah Taurat Yahudi.

_______________________________________
*    Dari Adam sampai zaman Yakub dan mencakup sejarah-sejarahnya.
**    Berisi kisah keluarnya kaum Yahudi dari Mesir.
***    Rut adalah nama seorang perempuan, Nenek dari Daud as.
****    Ezra adalah Uzaer as.
*****    Nehemia adalah nama seorang
******    Pengarang buku ini tidak memasukkan Kitab Ester sebagai Kitab yang disepakati oleh para pendahulu. Kitab Ester -yang terletak setelah Kitab Nehemia dan sebelum Kitab Ayub- dikategorikan pada bagian kedua dari Kitab yang diperbedatkan. Tetapi demikian menurut para penganut Kristen, Kitab ini masuk kategori Kitab Perjanjian Lama yang disepakati. Sehingga jumlah keseluruhan adalah 39 kitab

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Klarifikasi Nama-Nama dan Jumlah Injil

Ketahuilah bahwa mereka—para pendeta Kristen—telah membagi Alkitab kepada dua bagian. Bagian pertama merupakan Kitab yang sampai kepada mereka melalui perantaraan para nabi sebelum datangnya Nabi Isa as. Bagian kedua merupakan kitab-kitab yang ditulis berdasarkan ilham setelah Nabi Isa as Yang disebut pertama dinamakan Kitab Perjanjian Lama, dan yang disebut terakhir dinamakan Kitab Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru adalah seluruh Kitab dan surat-surat yang ditulis setelah Yesus Kristus. Perjanjian Baru mencakup kitab-kitab Injil dan yang mengikutinya, dimulai dari Injil Matius dan diakhiri dengan Wahyu kepada Yohanes. Penamaan “Perjanjian Baru” merupakan hasil ijtihad kaum Kristiani yang didasarkan kepada teks Yeremia 31:31-33 berikut ini. [33] Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikian firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, [32] bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka inkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikian finnan Tuhan. [33] Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikian firman Tuhan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”

Perjanjian Lama adalah kitab-kitab yang dinisbahkan kepada para nabi sebelum Nabi Isa as yang mencakup Kitab Taurat dan Kitab yang mengikutinya. Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah Kitab Perjanjian Lama; ada yang mengatakan seluruhnya 38 Kitab yang dimulai dengan Kitab Kejadian dan diakhiri dengan Kitab Maleakhi. Dalam Taurat kata “Perjanjian” atau dalam bahasa Arab al-’ Ahd berarti janji yang benar dari Allah kepada manusia.

Sedangkan kumpulan kedua Kitab itu dinamakan Bibel, kata Yunani, yang berarti Alkitab.

Masing-masing kitab itu dibagi lagi kepada dua bagian; ada yang disepakati kebenarannya oleh para pendahulu agama Kristen dan ada pula yang diperdebatkan.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Penisbahan Kata “Allah” dengan Berhala, dan Guru

Dalam kitab-kitab Samawi terdapat beberapa penisbahan kata “Tuhan” kepada berhala, karena banyaknya keterangan ini maka tidak perlu lagi kutipan syahid. Begitu juga, penisbahan kata “Tuhan” kepada guru. Perhatikan teks Yohanes 1:38, “Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikuti. Dia lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru) dimanakah Engkau tinggal?”

Berdasarkan data-data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidaklah logis apabila berargumen dengan penisbahan kata-kata “Allah” atau “Anak Allah” kepada makhluk, seperti Malaikat, Yesus Kristus, Setan, berhala, dan guru.

Permasalahan kelima: Selain contoh-contoh pada nomor tiga dan empat di atas, bentuk hiperbolisme (majaz) yang terkait dengan Tuhan adalah sangat banyak. Misalnya, hiperbolisme tentang janji Allah kepada Abraham mengenai anak dan keturunannya yang diceritakan dalam Kitab Kejadian 13:16. “Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunannya pun akan dapat dihitung juga.” Teks lain 22:17, “maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kotakota musuhnya.”

Begitu juga Allah menjanjikan kepada Yakub bahwa keturunannya seperti debu tanah sebagaimana diceritakan dalam masalah nomor empat tentang keturunan Abraham dan Yakub. Tetapi selama beberapa kurun waktu ini keturunan Abraham dan Yakub belum mencapai gambaran jumlah debu di suatu negeri, terlebih jumlah butiran pasir di Taut atau jumlah debu di seluruh dunia. Hiperbolisme juga terjadi dalam bentuk sanjungan Tuhan terhadap suatu negeri yang tiada bandingannya, suatu negeri yang kaya akan susu dan madunya. Perhatikan teks Kitab Keluaran 3:8, “Sebab ini Aku telah turun untuk melepa.skan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.”
Dalam Kitab Ulangan 1:28 dikatakan, “Orang-orang itu lebih besar dan tinggi daripada kits, kota-kota di sana besar dan kubu-kubunya sampai ke langit.” Dalam Ulangan 9:1 disebutkan perumpamaan berikut, “Dengarlah hai orang Israel! Engkau akan menyeberangi sungai Yordan pada hari ini untuk memasuki serta menduduki daerah bangsabangsa yang lebih besar dan lebih kuat daripadamu, yakni kota-kota besar yang kubu-kubunya sampai ke langit.”

Kemudian dalam Kitab Mazmur 78 dikatakan, “[65] Lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur, seperti pahlawan yang siuman dari mabuk anggur. [66] Ia memukul mundur Para lawan-Nya, Ia menyebabkan mereka mendapat cela untuk selama-lamanya.” Dalam Mazmur 104:3 disebutkan tentang sifat Tuhan, “Pujilah Tuhan, yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu.”

Perkataan Yohanes juga penuh dengan hiperbolisme, dan sedikit sekali teks kitab itu yang tidak memerlukan penakwilan. Ini sebagaimana diakui oleh pemerhati Injil Yohanes, surat-surat dan kesaksiannya. Di antara sekian banyaknya teks Yohanes yang memerlukan penakwilan itu, saya kutip satu paragraf saja dari Wahyu kepada Yohanes 12:1-7. “[1] Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. [2] Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. [3] Malta tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor nags merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahlvata. [4] Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit clan melemparkannya ke bumi. Naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera setelah perempuan itu melahirkan-Nya. [5[ Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi, Tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan takhta-Nya. [6] Perempuan itu lari ke padang gurun, dimana telah sediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di si seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. [7] Maka timbullah pe: perangan di surga. Mikhael dan Malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dihantu oleh malaikat-malaikatnya.

Tek-teks seperti di atas sangat aneh. Jika teks-teks itu tidak ditakvvil. kan maka mustahil dapat dipahami dan jikapun teks-teks itu ditakwilkan maka bentuk takwilnya pun sangatlah sulit. Menghadapi teks-teks seperti ini kalangan Ahlulkitab tentu mempergunakan perangkat dan mekanis. me takwil. Dan mereka menyadari betul bagaimana kitab-kitab langit penult dengan gambaran-gambaran hiperbolis. Menurut pengarang Mursyid ath-Thaain it Alkitab al-Muqaddas ats-Tsamiu pada pasal ketiga belas bahwa istilah-istilah dalam kitab suci memakai bentuk. bentuk hiperbolis yang sulit untuk dipahami, terutama dalam Kitab Perjanjian Lama. Hal serupa terjadi dalam Kitab Perjanjian Baru dimana di dalamnya terdapat istilah-istilah dan perumpamaan-perumpamaan yang jlimet dan tidak mullah dipahami. Kondisi ini sering memicu berkembangnya pendapat-pendapat keliru dan kacau karena banyak di antara para penafsir kitab ini menafsirkan teks-teks itu secara harfiah. Dalam pada ini saya perlu menunjukkan beberapa contoh dari penafsiran harfiah yang dinilai tidak akurat. Di antaranya penafsiran tentang kata-kata Yesus kepada Herodes dalam Lukas 13:32, “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu.” Kata-kata “serigala” dalam redaksi ini biasanya dipahami sebagai “penguasa yang lalim.” Ini disebabkan prototipe dari serigala itu sendiri sebagai binatang buas, liar dan binal.

Contoh lain adalah kata-kata Tuhan kepada orang-orang Yahudi dalam Yohanes 6:51, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Dalam teks 52, “Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Para penafsir tidak melihat makna lain dari daging ini, selain pengorbanan yang diberikan Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia di dunia. Di antara mereka ada juga yang mengembalikan makna “roti” ini kepada “tubuh” berdasarkan teks Matius 26:26, “Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Dan tentang khamar (cawan) dimaknai dengan darah, sebagaimana dinyatakan dalam Matius 26:27-28, “Minumlah kamu semua dari cawan, Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”

Sejak abad kedua belas, orang-orang Katolik Roma mengambil makna lain yang berbeda berdasarkan beberapa bukti lain dalam kitab suci serta dalil-dalil lain yang dipandang lebih argumentatif. Pendapat mereka adalah bahwa wujud roti dan cawan berubah ke dalam wujud tubuh dan darah Yesus. Kedua benda itu, yakni roti dan cawan, merupakan dua substansi material yang tetap dan tidak berubah. Karenanya, penakwilan yang mendekati kebenaran adalah roti tersebut dimaknai “seperti tubuh-Nya” dan cawan dimaknai “seperti darah-Nya.”

Pemaknaan seperti ini cukup jelas dan tidak samar lagi. Hanya saja, keterangan “sejak abad dua belas dan seturusnya” merupakan bantahan terhadap penganut Katolik Roma yang meyakini berubahnya wujud roti dan cawan ke dalam wujud tubuh dan darah Yesus secara kasat mata. Kata-kata Yesus yang pertama dipahami secara harfiah sebagai argumen yang menguatkan keyakinan kalangan Kataholik Roma tentang perubahan wujud (esensi). Perhatikan bunyi teks itu, “[26] Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” [27] Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”[408]Menurut para penganut Protestan, kata “inilah” menunjukkan kepada esensi sesuatu yang semuanya ada. Jikapun esensi roti tetap maka penggunaan kata “inilah” dipandang tidak tepat. Artinya, penunjukkan “roti” ini sebagai tubuh Yesus bagi setiap orang yang memakannya merupakan penunjukkan yang tidak tepat. Apalagi mereka (para penganut Katolik) sebelum munculnya Protestan merupakan mayoritas penganut Kristian di dunia, bahkan sampai sekarang pun jumlah mereka tetap paling banyak.

[408]Jamuan Paskah atau makanan Tuhan (Ekaristi) merupakan salah sate ideologi dasar keimanan Kristen. Menurut mereka pada hari penangkapan Yesus sebelum pergi ke bukit Golgota, Yesus mengadakan jamuan makan bersama murid-murid-Nya. Ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya. Roti yang dimakan itu diyakini sebagai makanan Tuhan, dan cawan yang diminum diyakini sebagai cawan Tuhan. Mereka juga meyakini, bahwa siapa saja yang mengadakan jamuan makan Paskah pada setiap tahunnya, maka roti yang dimakan itu berubah menjadi daging Yesus dan menjadi bagian dari daging mereka. Begitu jug-a, cawan yang diminum berubah menjadi darah Yesus dan menjadi bagian dari darah mereka. Dengan demikian, terjadi perserikatan antara Yesus dengan para penganut Kristiani. Itulah sebabnya, Ekaristi merupakan prosesi penyatuan dengan Roh Kudus. Ekaristi memberi andil bagi masuknya Roh suci ke dalam tubuh-tubuh mereka.

Secara kasat mata—seperti yang dibuktikan oleh para penganut Protestan—perubahan wujud roti dan cawan kepada tubuh dan darah Yesus merupakan suatu keyakinan yang salah kaprah. Sebab di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Begitu juga halnya dengan keyakinan tentang trinitas (bersatunya tiga unsur Tuhan) sebagai keyakinan yang keliru, terlebih apabila dipandang secara rasio.
Jika kalangan Protestan berkata: Bukankah kita termasuk orangorang yang rasional? Lalu bagaimana kita dapat membuktikan secara rasio bahwa keyakinan para penganut Katolik itu sebagai sesuatu yang mustahil?

Kami berpendapat: Bukankah para penganut Katolik juga merupakan orang-orang rasional seperti kamu (baca: orang-orang Protestan) dimana jumlah mereka sampai sekarang dan apalagi dahulu merupakan jumlah yang lebih banyak dari yang lainnya? Lalu, bagaimana mereka menyepakati terhadap sesuatu yang sesungguhnya tidak benar dan diketahui kekeliruannya berdasarkan penilaian kasat mata? Dengan demikian keyakinan mereka itu jelas-jelas salah dan keliru. Kekeliruan ini dapat dilihat dari beberapa segi.

(Pertama), Para penganut mazhab Katolik mengklaim bahwa roti itu sendiri dapat berubah ke dalam tubuh dan darah Yesus, dan kemudian berubah menjadi sosok Yesus yang sempurna.

Saya berpendapat: Apabila roti berubah menjadi sosok Yesus sempurna,—yang hidup dengan ketuhanan dan kemanusiaan-Nya— diambil dari Maria, maka tentunya dalam roti itu terkandung unsurunsur phisikal manusia, dimana di dalamnya ada kulit, tulang, darah dan lain-lain. Akan tetapi, dalam kenyataannya unsur-unsur phisikal manusia tidak terdapat dalam roti. Unsur-unsur roti tetap saja begitu sebagaimana yang kita lihat. Siapapun yang melihat atau memegang roti itu maka is tidak akan merasakan apapun selain roti itu sendiri. Jika seseorang menyimpan roti itu lalu roti itu membusuk, maka kebusukan itu tidak menimpa kepada wujud phisikal orang itu. Jikapun perubahan itu dimungkinkan, maka perubahan Yesus menjadi roti, bukan roti menjadi Yesus. Jika mereka berkata: Yesus berubah menjadi roti maka perubahan itu lebih diterima ketimbang roti menjadi Yesus, meskipun secara rasio kedua-duanya merupakan sesuatu yang impossible.

(Kedua), Hadirnya Yesus pada tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan meski dianggap mungkin terjadi secara lahuti (dilihat dari dimensi ketuhanan-Nya), tetapi is menjadi tidak mungkin dilihat dari dimensi kemanusiaannya. Bagaimana mungkin sebuah sosok manusia seperti kita -yang suka makan, minum, tidur dan mempunyai perasaan takut dan lain-lain— berpindah-pindah ke berbagai tempat pada waktu yang bersamaan? Ironisnya, sebelum Yesus naik ke langit kita tidak pernah mendengar bahwa Ia berada di beberapa tempat pada waktu bersamaan. Begitu juga setelah Ia naik ke langit, tidak pernah tersiar berita bahwa Yesus berada dimana-mana. Lalu, setelah berjalan sekian abad kemudian, tiba-tiba muncul pemikiran bahwa Yesus berada di berbagai tempat dalam waktu bersamaan. Jelas, keanehan ini tidak dapat ditolelir oleh siapapun.

(Kea’s-a), Apabila kita melihat jutaan pendeta, pastor dan Uskup di seluruh dunia dimana pada waktu bersamaan melakukan pensuciandengan jamuan Paskah atau Ekaristi—sehingga terjadi perubahan wujud kepada Yesus yang dilahirkan dari seorang perawan maka masing-masing dari mereka berubah menjadi wujud Yesus atau membentuk Yesus lainnya. Kemungkinan membentuk Yesus-Yesus lain jelas merupakan hal yang batil. Sedangkan kemungkinan masing-masing mereka menjadi Yesus dalam waktu bersamaan juga dipandang tidak mungkin terjadi. Sebab materi apapun berbeda dari materi lainnya.(Keempat), Apabila perubahan roti menjadi sosok Yesus sempurna dilakukan setelah pendeta atau Uskup memecah-mecahkan roti sehingga menjadi roti-roti yang jumlahnya banyak, maka hal itu tidak akan keluar dari dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, berarti Yesus dipecah-pecah atau dibagi-bagi sesuai dengan jumlah roti yang dibagi itu. Atau, kemungkinan kedua setiap pecahan itu berubah menjadi sosok Yesus sempurna. Kemungkinan yang disebut pertama tidak akan membentuk sosok Yesus sempurna. Sedangkan pada kemungkinan kedua dihadapkan kepada pertanyaan; dari mana datangnya Yesus-Yesus itu? Sebab dengan persembahan itu tidak akan diperoleh, kecuali hanya sate Yesus saja.

(Kelima), Apabila jamuan Paskah yang dilaksanakan sebelum penyaliban Yesus merupakan suatu persembahan yang menyebabkan terjadinya penyaliban itu sendiri, maka jamuan tersebut dipandang cukup untuk menebus dosa seluruh dunia. Karenanya tidak perlu lagi penyaliban di atas kayu seperti dilakukan orang-orang Yahudi. Lantaran kehadiran Yesus ke dunia diperuntukkan bagi penebusan dosa manusia melalui satu kali pengorbanan, dan kehadirannya bukan untuk merasakan kesakitan secara berulang-ulang. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam Ibrani 9:25-26, “Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia dijadikan ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.”

(Keenam), Jika benar apa-apa yang diklaim oleh mereka, maka tindakan yang dilakukan para penganut Kristen lebih jelek daripada tindakan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi hanya menyakiti Yesus sekali saja dan kemudian meninggalkan jasad Yesus dan tidak memakannya. Tetapi orang-orang Kristen setiap hari menyakiti Yesus dan mengorbankannya di berbagai tempat yang berbeda. Jika seseorang melakukan pembunuhan terhadap Yesus sekali saja maka is kalif dan dilaknat. Lalu bagaimana halnya dengan orang-orang yang setiap hari memakan daging dan meminum darah Yesus?

Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan orang-orang yang memakan Tuhannya dan meminum darah-Nya. Jika Tuhan mereka tidak dapat menolong mereka lantaran Ia sendiri lemah dan miskin sehingga harus disalib, maka siapa yang akan menolong? Perhatikan sebuah pepatah bahwa “kecintaan yang membabi buta sama seperti keingkaran yang sesungguhnya.”

(Ketujith) Dalam Kitab Lukas 22:19 disebutkan kata-kata Yesus pada waktu jamuan Paskah, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Perbuatan ini menjadi peringatan akan Aku. “Jika jamuan itu merupakan bentuk dari korban itu sendiri, maka jamuan itu tidak lagi menjadi peringatan. Sebab sesuatu tidak menjadi peringatan bagi dirinya sendiri.

Orang-orang yang sehat akalnya menganggap jamuan itu sebagai sebuah Hum: Apabila mereka berilusi dalam Zat Tuhan atau berilusi dalam akal-akal mereka sendiri maka mana di antara keduanya yang paling mustahil? Di sini saya tidak perlu mengomentari ini dan saya cukup menyoroti pandangan para ilmuan Protestan saja. Bahwa, orangorang cerdas di antara mereka bersepakat terhadap suatu keyakinan yang bertentangan dengan akal dan inderawi karena taklid kepada nenek moyang mereka. Mereka juga telah bersepakat terhadap teologi trinitas yang sesungguhnya bertentangan dengan penilaian akal sehat.

Tetapi demikian, banyak orang yang diklaim oleh mereka sebagai orang-orang mu/hid memperolok teologi trinitas. Jumlah orang-orang seperti itu di zaman sekarang cukup banyak, dan jumlah mereka lebih besar ketimbang jumlah penganut Protestan atau bahkan penganut Katolik sekalipun. Mereka yang menertawakan teologi trinitas adalah orang-orang yang cerdas, yang kemudian meninggalkan mazhab Protestan lantaran melihat kerancuan dalam teologi itu. Selain mereka juga terdapat sekelompok aliran—yang merupakan pecahan dari Kristen—menolak teologi Trinitas. Orang-orang Islam dan Yahudi, dulu maupun sekarang, memandang teologi ini sebagai impian yang kacau.

Permasalahan kee.nam: Secara umum banyak kata-kata Yesus yang sulk dipahami orang-orang yang sezaman dengannya atau murid-mundnya. Kata-kata yang ditafsirkan pada umumnya dapat dipahami. Sedangkan kata-kata yang tidak ditafsirkan sebagian dipahami dan sebagian lagi tidak dapat dipahami sama sekali.

Dalam Kitab Yohanes 2:19-22 disebutkan percakapan Yesus dengan orang-orang Yahudi yang meminta mukjizat. “[19] Jawab Yesus kepada mereka, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan men-dirikannya kembali. [20] Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya, “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau akan membangunnya dalam tiga hari? [21] Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri. [22] Kemudian sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-muridNya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. Berdasarkan teks ini para murid Yesus dan juga orang-orang Yahudi tidak dapat memahami maksud kata-kata Yesus itu. Mereka baru dapat memahami setelah Yesus bangkit dari kuburnya.

Dalam Kitab Yohanes 3:1-13 disebutkan percakapan Yesus dengan Nikodemus, seorang Farisi yang menjadi pemimpin agama Yahudi. Kata Yesus kepada Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari Tuhan, maka ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Nikodemus tidak dapat memahami maksud kata-kata Yesus itu, dan kemudian Nikodemus berkata, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Lalu Yesus menjelaskan kembali maksud dari kata-kata-Nya. Tetapi, lagi-lagi Nikodemus tidak dapat memahami kata-kata tersebut. “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?, kata Nikodemus lagi. Jawab Yesus, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?

Yesus Kristus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Barangsiapa makan daripadanya, ia tidak akan mad. Ia akan hidup selama-Iamanya dan rod yang Kuberikan ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan. Maka kata Yesus kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zarnan. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku hidup oleh Bapa, demikian juga Barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari muridmurid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Karenanya banyak di antara murid-murid Yesus yang mengundurkan diri. Kisah ini diceritakan secara terpisah dalam Kitab Yohanes 6:32-65. Jelas sekali orang-orang Yahudi tidak dapat memahami kata-kata Yesus, begitu juga para murid Yesus kesulitan mencerna kata-kata itu, dan bahkan di antar mereka banyak yang mengundurkan diri.

Dalam Kitab Yohanes 8:21, 22, 51, dan 52 disebutkan kata-kata Yesus yang juga sulit dipahami. “[21] Yesus berkata kepada orang banyak, “aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mad dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” [22] Maka kata orang-orang Yahudi itu, “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin Aku pergi? [5]1 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-Iamanya.” [52] Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya, “Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mad dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Dalam teks ini disebutkan keadaan orang-orang Yahudi yang tidak memahami maksud kata-kata Yesus, dan karena itu di antara mereka ada yang menuduh Yesus pendusta.
Dalam Kitab Yohanes 11:11-14 disebutkan kata-kata Yesus yang tidak dipahami oleh murid-murid-Nya. ” [11] Ia berkata kepada mereka, 127arus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi kesana untuk membangunkan dia dari tidurnya. [12] Maka kata murid-murid itu kepada-Nya, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” [13] Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalarn arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. [14] Karena itu Yesus berkata dengan terns terang, “Lazarus sudah coati.”

Dalam Kitab Matius 16:6, 7, 8, 11, dan 12 disebutkan kata-kata Yesus yang tidak dipahami oleh para murid-Nya, dan kemudian Yesus sendiri menjelaskannya. “[6] Pada waktu murid-murid Yesus menye-berang danau, mereka lupa membawa roti. Yesus berkata kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi-ragi orang Farisi dan Saduki. [7] Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain, “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak membawa roti.” [8] Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orangorang yang kurang percaya! [11] Bagaimana mungkin kamu tidak mengerti bahwa bukan roti yang Kumaksudkan. Aku berkata kepadamu: Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. [12] Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksud-Nya supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki.”

Dalam Kitab Lukas 8:52-53 diceritakan tentang keadaan seorang anak kecil yang dihidupkan kembali oleh Yesus dengan seizin Tuhan. [52] Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi, Yesus berkata, “Jangan menangis, ia tidak mati tetapi tertidur. [53] Mereka menertawakan Dia, karena mereka tabu bahwa anak itu telah mati.” Pada kedua teks ini orang-orang tidak memahami maksud dari kata-kata Yesus, dan karenanya mereka menertawakan-Nya.

Dalam Kitab Lukas 9:44-45 disebutkan kata-kata Yesus kepada murid-murid-Nya. “[44] Dengarkanlah dan camkanlah segala perkataanKu ini: Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. [45] Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.” Kedua teks ini menunjukkan ketidakpahaman murid-murid Yesus atas kata-kata guru mereka. Dan mereka tidak menanyakan arti kata-kata yang disampaikan gurunya lantaran takut.

Dalam Kitab Lukas 18:31-34 disebutkan pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus. “[31] Yesus memanggil kedua belas murid Nya, lalu berkata kepada mereka, “Sekarang kita pergi ke Yerussalem dan segala sesuatu ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. [32] Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olok, dihina, dan diludahi. [33] dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit. [34] Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu. Arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.”

Pada teks ini juga diceritakan mengenai ketidakpahaman para murid Yesus akan kata-kata gurunya. Padahal pemberitaan itu disampaikan untuk kedua kalinya. Barangkali ketidakpahaman mereka terjadi lantaran mereka mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa Yesus akan menjadi seorang Raja yang besar. Ketika mereka semua beriman kepada Yesus dan membenarkan keberadaan-Nya sebagai seorang nabi, maka mereka mengira bahwa Yesus akan menduduki tahkta kerajaan. Mereka mengira akan masuk dalam jajara keluarga kerajaan, sebab Yesus sendiri telah menjanjikan kepada mereka untuk menempati dua belas takhta kerajaan. Masing-masing dari mereka akan memerintah terhadap satu golongan dan dua belas golongan Bani Israel. Akan tetapi, berita ini bertentangan dengan harapan dan dugaan mereka, karena itulah mereka tidak dapat memahami kata-kata Yesus. Dan mengenai harapan kedua belas murid Yesus akan dijelaskan kemudian.

Di samping kata-kata itu, juga terdapat dua pernyataan Yesus yang tidak jelas bagi murid-muridnya. Ketidakjelasan ini berlanjut sampai mereka semuanya meninggal dunia. Pertama, Mereka meyakini bahwa Yohanes tidak akan mati sampai datangnya hari kiarnat. Kedua, Mereka meyakini bahwa kiamat akan terjadi pada masa mereka. Keyakinan yang disebut terakhir ini sebagaimana telah dijelaskan secara rinci dalam bab I.

Yang jelas, kata-kata Yesus Kristus itu sendiri tidak terpelihara dalam kitab-kitab Injil. Dalam terjemahan versi Yunani, misalnya, kata-kata itu Yesus dipahami berdasarkan pemahaman penerjemahnya sendiri. Permasalahan ini telah diketahui secara rinci dalam Bab II, Bagian 3, kesaksian 18 bahwa Injil Matius tidak ada teks aslinya, dan yang ada hanya terjemahannya saja. Dan sampai sekarang tidak diketahui secara pasti nama pengarang kitab itu. Begitu juga halnya dengan kitab-kitab lainnya dimana tidak ada sanad yang bersambung yang menyebutkan bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh Marku, Lukas atau Yohanes. Ironisnya ditengah ketidakpastian itu justru penyelewengan dan pemalsuan diyakini menimpa kitab-kitab itu, Para ahli agama Kristen bahkan secara sengaja memalsukan kitab-kitab itu untuk memperkuat masalah-masalah yang menjadi klaim mereka atau untuk membantah terhadap orang-orang yang tidak senang kepada mereka.

Berdasarkan argumen yang kuat telah diketahui pula tindakan pemalsuan mereka terhadap doktrin trinitas dimana secara rinci dijelaskan pada bagian 2, kesaksian 31. Mereka menambahkan redaksi ban’ dalam Surat 1 Yohanes 5:7-8 bahwa “di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi.”

Mereka menambahkan kata-kata “darimu” dalam Lukas I: 35, “Rob Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan dilahirkan (darimu) itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Mereka juga membuang satu kata dari Manus 1:11, yakni kata “Yoyakhim.” Teks ini selengkapnya, “Yosia memperanakkan Yoyakhim dan Yoyakhim memperanakkan Yekhonya.” Tetapi oleh mereka ditulis dengan redaksi,”Yosia memperanakkan Yekhonya.” Mereka juga telah membuang satu ayat penuh dari kitab Lukas 22:43. Ayat yang dibuang adalah, “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepadaNya.” Ayat ini dibuang sebab “pernberian kekuatan dari malaikat kepada Tuhan” dapat menegaskan dimensi ketuhanan-Nya. Dengan demikian, jikapun ditemukan dalam sebagian kata-kata Yesus keterangan yang dinilai samar dan menunjukkan kepada doktrin trinitas maka kata-kata itu tidak dapat dijadikan pegangan. Dan untuk lebih rincinya keterangan ini akan dibahas dalam permasalahan kedua belas dari pendahuluan bab IV.

Permasalahan ketujuh: Terkadang akal tidak mampu mengetahui esensi sebagian benda sebagaimana adanya. Tetapi demikian esensi itu ditetapkan berdasarkan kemungkinannya, dan tidak dapat dipastikan keberadaannya disaat esensi benda dipandang mustahil adanya. Karena itu, benda tersebut dikategorikan ke dalam benda-benda mungkin adanya (mumkinat). Terkadang pula ketiadaan esensi suatu benda ditetapkan berdasarkan argumen atau secara aksiomatis, sehingga keberadaan benda itu dipandang mustahil. Dan karenanya yang disebut terakhir ini dikategorikan ke dalam benda-benda tidak mungkin adanya (mumtaniat).

Kategori kedua disebut mumtarn’at, yakni berkumpulnya dua esensi yang bertentangan. Di antara benda yang termasuk kategori ini adalah berkumpulnya “satu” dan “banyak” dalam satu pribadi pada waktu bersamaan dan tempat yang sama. Atau berkumpulnya genap dan ganjil, atau berkumpulnya dua pribadi yang berbeda, atau berkumpulnya dua hal yang bertentangan seperti cahaya dan kegelapan, hitam dan putih, panas dan dingin, kering dan basah, buta dan melihat, diam dan gerak dalam sebuah pribadi dalam waktu dan tempat yang bersamaan. Kemustahilan berkumpulnya kategori mumtaniat ini ditetapkan secara aksiomatis oleh akal. Termasuk kategori mumtaniat juga adalah daur dan tasalsul. Keduanya ditetapkan batilnya oleh dalil qath`i.

Permasalahan kedelapan: Apabila ada dua pernyataan bertentangan, maka keduanya harus digugurkan apabila tidak mungkin ditakwil, atau ditakwil salah satunya. Pemakaian mekanisme takwil ini pun disyaratkan agar tidak menyeret kepada dusta. Sebagai contoh, ayat-ayat yang menunjukkan kepada antropomorfisme bertentangan dengan ayat-ayat yang menunjukan kepada pensucian (tanzih). Terhadap kedua ayat ini maka harus dilakukan penakwilan, sebagaimana dinyatakan dalam permasalahan ketiga. Tentunya takwil itu tidak membawa kepada kesimpulan bahwa Tuhan disifati dengan dua sifat, yakni jismiyah dan tanzih. Jika takwil akal tidak mampu menghilangkan dua hal yang berlawanan itu maka takwil tersebut dipandang cacat dan harus ditolak.

Permasalahan kesembilan: Ketika suatu bilangan merupakan bagian dari kuantitas maka ia tidak dapat berdiri sendiri, tetapi terkait dengan yang lainnya. Dan segala sesuatu dipastikan terkait dengan satuan atau bilangan. Begitu juga substansi-substansi yang ada secara sempurna dengan kesempurnaan dirinya, yang dipersonifikasikan oleh kepribadiannya maka ia terkait dengan banyaknya hakikat. Jika demikian maka ia tidak terkait dengan satu hakikat saja, tetapi terkait dengan dua atau banyak hakikat. Kalau dikatakan; ia terkait dengan satu hakikat saja maka berkumpulnya dua hakikat yang berbeda menjadi hal yang mesti sifatnya. Pembahasan ini sebagaimana disebutkan dalam permasalahan ketujuh.

Memang benar, suatu kuantitas terkait dengan asumsi. Jumlah keseluruhan itu semuanya diasumsikan sebagai satu hakikat. Tetapi demikian, sesungguhnya asumsi itu terdiri dari hakikat-hakitat.

Pennasalahan kesepuluh: Pertentangan antara kith dengan penganut doktrin trinitas tidak akin terjadi apabila mereka tidak mengklaim trinitas dan Tauhid sebagai dua hakikat yang sama. Apabila mereka berkata, trinitas sebagai hakikat dan tauhid sebagai bukan hakikat (i`tibari) maka tidak ada pertentangan antara kita dengan mereka. Sebab mereka jelas-jelas masuk kepada kaum heretik (musyrikin). Akan tetapi, mereka berkata bahwa trinitas dan tauhid kedua-duanya merupakan hakikat, seperti yang dikatakannya dalam buku karangan cendekiawan Protestan. Pendeta Pfander dalam bukunya Hal al-Isykal volume I mengatakan bahwa orang-orang Kristen menganggap ajaran tauhid dan trinitas sebagai dua hakikat.

Permasalahan kesebelas: Menurut al-Maqrizi dalam bukunya alKhuthat409 tentang penjelasan golongan-goiongan Kristen yang berkeinbang di zamannya bahwa Kristen mempunyai beberapa kelompok; Malkaniyah, Sekte Nestoria (oleh Nestorius berdiri pada abad 4), Sekte Yakobit (oleh Yakobus Baradueus berdiri pada abad 4), Buzaniyah, Markuliyah. Dua yang disebut terakhir adalah kelompok yang mendiami
wilayah Haran.

Sekte Malkaniyah, Sekte Nestoria dan Sekte Yakobit sepakat bahwa Tuhan mereka terdiri dari tiga unsur. Ketiga unsur itu berada dalam satu, yakni substansi yang kekal. Artinya, Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Tuhan Esa. Menurut mereka, Tuhan Anak bersatu dengan manusia dan karenanya Tuhan Anak dan sekutunya itu berada dalam satu Yesus. Dan Yesus sendiri merupakan tuhan bagi hamba-hamba itu. Kemudian mereka berbeda pendapat tentang sifat “persekutuan” ; menurut sebagian dari mereka persekutuan itu terjadi antara substansi ketuhanan dan substansi kemanusiaan. Hasil persekutuan itu jadilah Yesus Kristus. Persekutuan keduanya tidak keluar dari substansi dan unsurnya. Karenanya, Yesus adalah Tuhan yang berhak disembah sekaligus anak manusia yang dilahirkan dari perut Maria yang kemudian la dibunuh dan disalib. Dengan demikian tragedi penyaliban itu terjadi atas Yesus balk sebagai Tuhan maupun sebagai manusia.

Menurut Sekte Nestoria, Yesus terwujud setelah persekutuan dua substansi, yakni substansi ketuhanan dan kemanusiaan. Sementara itu pembunuhan dan penyaliban yang menimpa Yesus terjadi dari sisi kemanusiaannya dan bukan dari sisi ketuhanannya. Sedangkan Maria yang mengandung dan melahirkan Yesus merupakan cerminan dari sisi kemanusiaannya. Sekte Nestoria menambahkan bahwa Yesus dengan kesempurnaannya adalah Tuhan yang disembah dan Dia adalah Anak Allah.

Kelompok lain berpendapat bahwa persekutuan itu terjadi antara dua substansi, yakni ketuhanan dan kemanusiaan. Yang disebut pertama merupakan substansi yang tidak terbagi-bagi. Kelompok lain ber
4°9 Yaitu buku al-Mawa’izh wa aM’tibar 6 Dzikri al-Khuthath rta abAtsar (Perlajaran dan Cermin dari Sejarah dan Peninggalan Masa Lalu) pendapat bahwa persekutuan itu terjadi atas penyatuan Tuhan Anak dalam tubuh dan bercampur dengannya. Kelompok lain berpendapat persekutuan itu ibarat tulisan relief yang tertera dalam tanah hat, atau tulisan dalam stempel yang menempel di kertas, atau seperti gambar manusia yang muncul dalam cermin. Dan masih banyak lagi pendapatpendapat lain yang intinya menyebutkan persekutuan itu tidak dijumpai pada persekutuan-persekutuan lainnya.

Kelompok Malkaniyah dinisbahkan kepada pemimpin Roma. Penduduknya disebut Malkaniyah atau Mulkaniyah dan dipimpin oleh seorang Paus atau yang dikenal dengan Paus Katolik. Menurut mereka Allah adalah nama bagi tiga makna, yakni satu dalam tiga dan tiga dalam satu.

Kelompok Yakobit dinisbahkan kepada seseorang yang bernama Yakobus Baradueus (w. tahun 578 M). Pengikut Yakub ini tersebar di Siria dan di Mesir. Orang yang pertama menisbahkan kelompok Kristen ini kepada Yakub adalah Said bin Patrik (w. 328 H/940 M).

Sedangkan menurut kelompok Markuliah, Allah adalah Esa dan ilmu-Nya tentang yang lain-Nya adalah kekal bersama-Nya. Sedangkan Yesus Kristus adalah Anak Allah sebagai rahmat (bagi manusia). Se-bagaimana dikatakan Ibrahim, Kekasih Allah.

Jelaslah bahwa pandangan mereka mengenai hubungan antara ketiga unsur itu sangat berbeda-beda. Karenanya kita dapat melihat berbagai argumen yang bertebaran dalam buku-buku umat Islam. Dan mengenai klaim trinitas berdasarkan pendapat kelompok Markuliyah, kiranya kita tidak terlalu apresiatif untuk membantahnya, kecuali hal-hal kecil yang terkait dengan akurasi penisbahan kata-kata yang meragukan saja.

Sementara itu, ketika kelompok Protestan mengetahui penjelasan mengenai hubungan antar ketiga unsur itu sebagai suatu hubungan yang kacau, maka mereka meninggalkan pendapat-pendapat para pendahulunya itu. Akan tetapi, mereka sendiri tidak mempu menampilkan penjelasan yang akurat dan dapat dijadikan pegangan. Karenanya, mereka lebih memilih diam dan tidak menjelaskan hubungan ketiga unsur itu.

Permasalahan keduabelas: Umat-umat terdahulu dari Adam sampai Musa dipastikan tidak memrlilci keyakinan seperti teologi trinitas. Tidak ada ayat atau teks dan kitab-kitab terdahulu yang menjadi pegangan bagi klaim trinitas. Kekacauan para penganut teologi Trinitas-lah yang sesungguhnya menyesatkan diri mereka sendiri. Jika pun mereka menunjukkan argumen dari Kitab Kejadian, maka ketahuilah sesungguhnya argumen itu tidak ada. Yang ada hanyalah penyelewengan atau pemal suan terhadap makna kitab itu. Pengambilan mereka terhadap makna itu sesungguhnya sangat kabur dan tidak berdasar.

Meski demikian, saya tidak menyebutkan mereka sebagai orangorang yang sepi dari argumen kitab-kitab suci. Saya hanya menyebutkan bahwa klaim mereka terhadap teologi trinitas yang dipegang oleh umatumat terdahulu, dari Adam sampai Musa, sebagai klaim yang tidak berdasar. Sebab kites semua tahu bahwa dalam syariat Musa dan umatnya tidak ada klaim tentang teologi trinitas. Tidak ada ayat dalam kitab-kitab Taurat yang menunjukkan kepada teologi trinitas.

Sampai akhir hayatnya, Yahya sendiri (atau disebut Yohanes) ragu terhadap keberadaan Yesus Kristus sebagai yang dijanjikan Tuhan. Ini dapat dilihat dari teks Matins 11:2-3, “Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Jika benar Yesus sebagai Tuhan, maka keragu. an Yohanes menunjukkan suatu perbuatan kufur, karena ragu kepada Tuhan adalah kufur. Bagaimana Yohanes tidak mengetahui Yesus sebagai Tuhannya padahal is diklaim sebagai nabi-Nya? Bukankah dalam Kitab Mathis 11:11 disebutkan bahwa Yohanes adalah nabi yang paling utama berdasarkan kesaksian Yesus. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Dengan demikian, Yohanes sebagai seorang nabi yang dipilih Yesus sendiri tidak tahu tentang hakikat sebenarnya dari Yesus. Jika orang yang terdekat dan sezaman saja tidak tahu tentang Yesus, maka apalagi orangorang terdahulu. Para cendekiawan yang hidup di zaman Musa sampai sekarang juga tidak tahu tentang ketuhanan Yesus. Yang jelas, Dzat Allah dan sifat-Nya yang sempurna adalah kekal, tidak berubah, serta keberadaan-Nya azali dan abadi. Jika klaim tentang trinitas benar, tentunya Musa dan para nabi lainnya diwajibkan untuk menjelaskan kepada umatnya tentang kebenaran teologi ini.

Ironis memang, syariat Musa yang notes bene syariat yang harus diikuti oleh umat manusia sejak. Musa sampai Yesus, tidak menjelaskan sedikitpun tentang teologi trinitas.Tidak seorang pun dari nabi-nabi itu, baik Nabi Musa ataupun nabi dari kalangan Israel lainnya yang menjelaskan tentang keberadaan dan kebenaran teologi trinitas. Karenanya, siapa pun tidak akan dapat menolong dan membuktikan kebenaran teologi Trinitas manakala tidak ada penjelasan atau pengakuan dari nabi-nabi lainnya.

Justru yang dijelaskan oleh Musa adalah hukum-hukum atau syariat yang dipandang lemah oleh Paulus. Hukum-hukum yang dijelaskan Musa adalah hukum-hukum abadi seperti tercantum dalam the ten cornandement, sehingga siapa pun yang menolak dan meningglkan hukum-hukum itu harus dibunuh. Di sini terlihat sekali bagaimana para pembela teologi Trinitas, seperti Paulus, menolak hukum-hukum Musa yang sesungguhnya menjadi pegangan Musa. Paulus justru memegang hukum-hukum yang tidak disyariatkan oleh Musa dan menjustifikasikan sebagai syariat Musa.

Ironisnya lagi; Yesus sendiri tidak pernah menjelaskan tentang teologi Trinitas sampai diangkat ke langit. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa “Tuhan adalah tiga unsure yang bersatu, yakni Bapa, Anak, dan Rob Kudus. Yesus juga tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah pribadi yang mempunyai dua kualitas, yakni kuahths ketuhanan dan kemanusiaan. Juga, Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Atau Yesus mengatakan kata-kata lain yang dapat di-pegang oleh para penganut teologi itu.

Pendeta Pfander dalam bukunya Miftah al -srarmengatakan bahwa jika dikatakan: mengapa Yesus tidak pernah menjelaskan tentang sisi ketuhanan-Nya dan mengapa Yesus tidak menjelaskan bahwa “Aku
adalah Tuhan?” Tentang pertanyaan pertama, kami tidak berkompeten menjelaskan. Sedangkan jawaban mengenai pertanyaan yang disebut terakhir adalah bahwa tiada seorang pun yang dapat memahami hubung an ini sebelum Yesus sendiri bangkit dari kematian dan naik ke langit. Jika Yesus menjelaskan bahwa “Aku adalah Tuhan”, maka orang-orang akan memahami sisi ketuhanan Yesus sebagai ketuhanan phisikal, yakni Tuhan yang dapat dilihat secara kasat mata. Dan ini jelas merupakan sesuatu yang batil. Tuntutan seperti ini merupakan tuntutan yang juga dikatakan kepada murid-murid-Nya bahwa “[12] Masih banyak hal yang harus Ku-katakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. [13] Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakan-Nya dan la akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Kemudian kata Pfander lagi bahwa para pembesar agama Yahudi scat itu hendak mengambil dan merajam Yesus. Dalam keadaan seperti itu bagaimana mungkin Ia akan menjelaskan ketuhanan-Nya secara terang-terangan di hadapan orangorang yang hendak mencincang-Nya.

Dan kata-kata pendeta Pfander di atas, terdapat dua pernyataan yang saya nilai rancu dan kabur. Pertama, pernyataan tentang ketidakmampuan menjelaskan sebelum naik ke langit. Kedua, pernyataan tentang ketakutan dari orang-orang Yahudi. Kedua pernyataan ini sangat lemah dan tidak berdasar.

Pernyataan Pertama bahwa kemampuan menjelaskan ini disinyalir cukup untuk menghilangkan keraguan,—bahwa hubungan antara dua pribadi (Bapa dan Roh Kudus) serta unsur Anak—sebagai suatu penjelasan yang berada di luar kemampuan kamu (baca: orang-orang Kristen). Artinya, Jikapun Yesus menjelaskan hubungan itu maka orang-orang tidak akan mengerti, sebab itu berada di luar logika yang benar. Karenanya, penjelasan Yesus tidak diperlukan. Dan justru yang harus dicamkan dari ketidakmampuan Yesus menjelaskan ini adalah bahwa “Aku (baca: Yesus) bukanlah Tuhan”, dan Aku (baca: Yesus) juga tidak mempunyai hubungan dengan kedua unsur lainnya seperti yang dipahami orangorang setelahku (penganut Trinitas).

Sedangkan mengenai ketidakmampuan Yesus menjelaskan diri-Nya sebagai Tuhan, maka ketidakmampuan ini berlanjut sampai Ia sendiri diangkat ke langit. Sampai sekarang pun tidak ada seorang pun dan para ilmuan atau cendekiawan Kristen yang tahu bagaimana hubungan antara Yesus sebagai Tuhan dan keesaan Tuhan itu sendiri. Jika ada orang yang berkata bahwa is mampu menjelaskan masalah ini, maka ketahuilah bahwa perkataan itu hanyalah dugaan yang menyebabkan kehancuran pilar-pilar teologis. Ketahuilah, penjelasan yang mengada-ada itu hanyalah membawa kepada tragedi penghancuran terhadap basis-basis teologis yang sebenarnya. Karena itu, cukup dimaklumi apabila orangorang Protestan sendiri tidak dapat menjelaskan hubungan antara ketiga unsur Tuhan itu. Saya juga melihat dalam beberapa karangan pendeta Pfander bahwa masalah trinitas merupakan masalah yang berada di luar jangkauan akal dan rasio.

Adapun pernyataan kedua dari pendeta Pfander, yakni ketiadaan penjelasan Yesus mengenai ketuahan-Nya disebabkan ketakutan terhadap orang-orang Yahudi, karena Yesus sendiri bagi mereka tiada lain merupakan sosok penebus dosa manusia. Orang-orang Yahudi akan menyalib dirinya, dan Yesus sendiri tahu bahwa mereka akan membunuh dan menyalib dirinya. Ketika Yesus sendiri tahu bahwa orangorang Yahudi akan menyalib dirinya maka sesungguhnya tidak ada alasan untuk takut menjelaskan teologi ini. Ironis sekali apabila Yesus yang diklaim sebagai Tuhan takut terhadap hamba-hambanya yang notabene kaurn paling bejat didunia. Sungguh ironis, sementara hambahamba yang lainnya seperti Nabi Yeremia, Yesaya, dan Nabi Yahya (Yohanes) tidak takut untuk mengungkapkan kebenaran meski mereka menghadapi siksaan yang teramat pedih dan sadis. Ketiga nabi ini rela dibunuh demi untuk menjelaskan keberanaran yang mereka bawa. Sementara Yesus justru takut menyatakan kebenaran itu. Jelaslah, ketidakmampuan Yesus menjelaskan dirinya sebagai Tuhan menunjukkan bahwa dirinya bukanlah Tuhan, atau Anak Tuhan.

Sungguh ironis apabila Yesus dikatakan takut menjelaskan masalah besar ini. Padahal Yesus sendiri sangat keras untuk mengajak orangorang berbuat kebajikan dan mencegah kemunkaran. Perhatikan katakata Yesus kepada orang-orang, seperti kata-kata “celakalah kamu, hai para pemegang kitab!”, atau “celakalah kamu, hai orang-orang Farisi yang tidak tabu malu!” Perhatikan pula kata-kata keras lainnya, seperti “celakalah kamu, hai orang-orang bodoh!; hai orang-orang dungu lagi bodoh; hai orang-orang Farisi yang dungu!; celakalah kamu, hai ulat beludak! Perhatikan juga kecaman-kecaman keras Yesus kepada ahliahli Taurat dan orang-orang Farisi, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Matius 23:13-37 dan Lukas 11:37-52. Contoh-contoh kecaman Yesus ini juga disebutkan dalam kitab-kitab lainnya. Karena itu, bagaimana pendeta itu berpikiran bahwa Yesus takut menjelaskan teologi trinitas karma Ia takut terhadap orang-orang Yahudi? Aneh dan sungguh aneh!

Dari data-data ini dapat disimpulkan bahwa Yesus sama sekali tidak pernah menjelaskan tentang teologi trinitas.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Penisbahan Kata “Allah” dengan Cinta

Dalam Surat I Yohanes 4:8, 16 disebutkan teks berikut, “[8] Barang. siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. [16] Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” Di sini Yohanes menetapkan cinta kepada Allah, dengan kata-kata “Allah adalah kasih.” Dari premis ini muncul ke¬simpulan seperti ini, “Barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Penisbahan Kata “Allah” kepada Perut

Dalam Surat Paulus kepada jemaat di Filipi 3:19 disebutkan kata¬kata “Ilah” yang dinisbahkan kepada perut. “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, dan kemuliaan mereka adalah aib mereka.”

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Penisbahan Kata “Allah” kepada Setan

Dalam Surat II Korintus 4:3-4 dikatakan bahwa “Jika Injil yang ‘mini beritakan masih tertutup juga, maka is tertutup untuk mereka, yang akan binasa. Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang merupakan gambaran Allah.”

Menurut para ilmuan Protestan, yang dimaksud dengan zaman    adalah Setan. Penisbahan “ilah zaman ini” terhadap Setan yang dilaknat menurut mereka merupakan hal-hal yang biasa saja. Mereka hendak menghindari konsekuensi penisbahan kata-kata “dibutakan” kepada Allah. Sebab dengan menisbahkan kata-kata itu berarti Allah merupakan Pencipta Kejahatan.

Tetapi, kesimpulan ini sangat rancu dan kacau, sebab berdasarkan keterangan kitab-kitab suci mereka yang dimaksud Pencipta Kejahatan adalah Allah Berkaitan dengan ini ada dua saksi (syahich yang menun¬jukkan bahwa Allah adalah Pencipta Kejahatan. Pertama, Syahid dari Kitab Yesaya 45:7, “yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menjadikan nasib malang. Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini.” Kedua, Perkataan Paulus dalam Surat Tesalonika 2:11-12, “Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta. Supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.” Jika demikian asumsi mereka, maka penampakan dari kutipan di atas untuk menunjukkan bahwa “ilah zaman ini” adalah Setan.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Penisbahan Kata “Allah” kepada Musa

Kemudian dalam Kitab Keluaran 7:1 dikatakan, “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: ” Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.” Juga dalam Kitab Keluaran 4:16 dikatakan, “Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian is akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya.” Pada kedua ayat ini, kata “Tuhan” dan “Allah” dinisbahkan kepada Nabi Musa. Dari sini kita dapat melihat bahwa teologi orang Yahudi lebih murni ketimbang teologi Kristen. Meskipun orang-orang Yahudi sangat mencintai Musa dan menganggap superior dari nabi-nabi lainnya, tetapi orang-orang Yahudi tidak sampai kepada penempatan Musa sebagai Tuhan.

Dalam Kitab Keluaran 13 dikatakan, “[21] Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka dapat berjalan siang dan malam. [22] Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap saja ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” Keterangan yang sama pula disebutkan dalam Kitab Keluaran 14:19 dan 24. Yakni, [19] Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di depan mereka. Dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. [24] Dan pada waktu jaga pagi, Tuhan yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu.” Pejalan yang di­sebutkan dalam Keluaran 14:19 adalah Malaikat. Dalam terjemahan versi Arab, pejalan atau Malaikat itu memakai kata-kata “Tuhan” untuk dirinya.

Kemudian dalam Kitab Ulangan 1:30-33 dikatakan teks berikut, “[30] Tuhan, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu [31] dan di padang gurun, dimana engkau melihat bahwa Tuhan, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang men­dukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini. [32] Tetapi walaupun demikian, kamu tidak percaya ke­pada Tuhan, Allahmu [33] yang berjalan di depanmu diperjalanan untuk mencari tempat bagimu, dimana kamu dapat berkemah: dengan api pada waktu malam dan dengan awan pada waktu siang, untuk mem­perlihatkan kepadamu jalan yang harus kamu tempuh.” Pada beberapa teks ini, kata “Tuhan Allah” terletak pada tiger tempat, yang kesemuanya menunjukkan kepada Malaikat. Malaikat-malaikat itu berjalan didepan mereka dan mengacaukan tentara-tentara Mesir.

Dalam kitab yang sama Pasal 31:3-8 disebutkan kata “Tuhan Allah-mu” dan kata “Tuhan” yang keduanya dinisbahkan kepada Malaikat. Perhatikan teks-teks berikut, “[3] Tuhan, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu. [4] Dan Tuhan akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sion, [5] Tuhan akan me­nyerahkan mereka kepadamu dan haruslah kamu melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. [6] Kuat­kan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau. [8] Sebab, Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau.

Kata-kata “Allah” juga disebutkan dalam Kitab Hakim-Hakim 13:22 bahwa “Manoah berkata kepada istrinya: “Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah.” Menurut keterangan Kitab Hakim-Hakim 13:3, 9, 13, 15, 16, 18, dan 21 yang dimaksud dengan “Allah” adalah Malaikat. Perhatikan pula Kitab Yesaya 6, Kitab 1 Samuel 3, Kitab Yehezkiel 4 dan 9, serta Kitab Amos 7.

Di samping itu, kata-kata “Allah” dan “anak-anak Allah Yang Maha­tinggi” dijumpai dalam Kitab Mazmur 81:6 versi terjemahan Arab atau Mazmur 82:6 versi terjemahan lainnya. “Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.” Bagi kalangan awam, penisbahan dua kata ini cukup menggelikan, ter­lebih bagi kalangan ilmuan.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.