Penisbahan Kata “Allah” kepada Musa

Kemudian dalam Kitab Keluaran 7:1 dikatakan, “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: ” Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.” Juga dalam Kitab Keluaran 4:16 dikatakan, “Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian is akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya.” Pada kedua ayat ini, kata “Tuhan” dan “Allah” dinisbahkan kepada Nabi Musa. Dari sini kita dapat melihat bahwa teologi orang Yahudi lebih murni ketimbang teologi Kristen. Meskipun orang-orang Yahudi sangat mencintai Musa dan menganggap superior dari nabi-nabi lainnya, tetapi orang-orang Yahudi tidak sampai kepada penempatan Musa sebagai Tuhan.

Dalam Kitab Keluaran 13 dikatakan, “[21] Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka dapat berjalan siang dan malam. [22] Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap saja ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” Keterangan yang sama pula disebutkan dalam Kitab Keluaran 14:19 dan 24. Yakni, [19] Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di depan mereka. Dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. [24] Dan pada waktu jaga pagi, Tuhan yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu.” Pejalan yang di­sebutkan dalam Keluaran 14:19 adalah Malaikat. Dalam terjemahan versi Arab, pejalan atau Malaikat itu memakai kata-kata “Tuhan” untuk dirinya.

Kemudian dalam Kitab Ulangan 1:30-33 dikatakan teks berikut, “[30] Tuhan, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu [31] dan di padang gurun, dimana engkau melihat bahwa Tuhan, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang men­dukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini. [32] Tetapi walaupun demikian, kamu tidak percaya ke­pada Tuhan, Allahmu [33] yang berjalan di depanmu diperjalanan untuk mencari tempat bagimu, dimana kamu dapat berkemah: dengan api pada waktu malam dan dengan awan pada waktu siang, untuk mem­perlihatkan kepadamu jalan yang harus kamu tempuh.” Pada beberapa teks ini, kata “Tuhan Allah” terletak pada tiger tempat, yang kesemuanya menunjukkan kepada Malaikat. Malaikat-malaikat itu berjalan didepan mereka dan mengacaukan tentara-tentara Mesir.

Dalam kitab yang sama Pasal 31:3-8 disebutkan kata “Tuhan Allah-mu” dan kata “Tuhan” yang keduanya dinisbahkan kepada Malaikat. Perhatikan teks-teks berikut, “[3] Tuhan, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu. [4] Dan Tuhan akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sion, [5] Tuhan akan me­nyerahkan mereka kepadamu dan haruslah kamu melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. [6] Kuat­kan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau. [8] Sebab, Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau.

Kata-kata “Allah” juga disebutkan dalam Kitab Hakim-Hakim 13:22 bahwa “Manoah berkata kepada istrinya: “Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah.” Menurut keterangan Kitab Hakim-Hakim 13:3, 9, 13, 15, 16, 18, dan 21 yang dimaksud dengan “Allah” adalah Malaikat. Perhatikan pula Kitab Yesaya 6, Kitab 1 Samuel 3, Kitab Yehezkiel 4 dan 9, serta Kitab Amos 7.

Di samping itu, kata-kata “Allah” dan “anak-anak Allah Yang Maha­tinggi” dijumpai dalam Kitab Mazmur 81:6 versi terjemahan Arab atau Mazmur 82:6 versi terjemahan lainnya. “Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.” Bagi kalangan awam, penisbahan dua kata ini cukup menggelikan, ter­lebih bagi kalangan ilmuan.

Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003

4 Tanggapan ke “Penisbahan Kata “Allah” kepada Musa”

  1. Hikmah Says:

    Assalamu’alaikum…

  2. princess Says:

    hai Kk..terimakasih informasinya…


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.