Adapun Kitab Perjanjian Baru yang keberadaannya diperselisihkan adalah sebanyak 7 Kitab dan beberapa paragraf dari Kitab Yohanes 1. Kitab-kitab tersebut adalah sebagai berikut:
-Ibrani, atau Surat Paulus kepada kaum Ibrani
-Surat II Petrus, atau Surat Paulus kepada Petrus 2
-Surat II Yohanes
-Surat III Yohanes
-Surat Yakobus
-Surat Yudas Iskariot
-Kesaksian Wahyu, atau Wahyu kepada Yohanes.
Berkaitan dengan 7 Kitab yang diragukan itu, Dew-an Gereja telah menetapkan keputusan penguasa Konstantinopel, Kaisar Konstantin, pada tahun 32.5 M, untuk memusyawarahkan tentang eksistensi ketujuh Kitab ini. Dari hasil musyawarah itu dihasilkan keputusan bahwa Kitab Yahudet harus diterima, sementara sisanya diragukan. Keterangan ini seperti dinyatakan dalam pendahuluan sebuah buku yang ditulis oleh Jerome *. Kemudian setelah itu diadakan lagi musyawarah yang diberi nama Konsili Laodecia pada tahun 364 M, dimana hasil keputusannya adalah penerimaan Kitab Yehudet berserta 6 Kitab sisanya sebagai Kitab yang wajib diterima.
Dengan demikian melalui dua musyawarah itu kitab-kitab tersebut selurulmya diterima, kecuali Kitab Wahyu kepada Yohanes yang masih diragukan. Lalu pada tahun 397 M diadakan musyawarah melalui Konsili Kartago ** dimana anggotanya terdiri dari orang-orang temama seperti St. Augustine beserta 26 pendeta lainnya. Hasil dari musyawarah itu penetapan hasil-hasil dari dua musyawarah sebelumnya ditambah dengan penetapan Kitab-Kitab berikut; (1) Kitab Wisdom (The Book of Wisdom); (2) Kitab Tobit; (3) Barukh; (4) Kitab Ecclesiastes; (5 dan 6) dua Kitab Maccabean (Mokabi); (7) Kitab Wahyu kepada Yohanes.
Hanya raja anggota dewan ini menjadikan Kitab Barukh sebagai bagian dari Kitab Yeremia. Ini disebabkan karena Barukh as dianggap sebagai asisten dan pengganti bagi Yeremia as. Karenanya dalam ensiklopedia tidak ditulis nama Kitab Barukh.
Kemudian setelah itu diadakan tiga pertemuan, yakni Konsili Tarlo, Florence, dan Turin. Para pendeta di tiga pertemuan ini menetapkan hasil-hasil keputusan dari pertemuan sebelumnya, ditambah dengan keputusan memasukkan nama Kitab Barukh dalam ensiklopedia kitabKitab Injil. Dengan demikian Kitab Barukh yang tadinya diragukan kemudian diakui keberadaannya sampai munculnya golongan bare, Protestan.
Kitab Barukh ditetapkan sebagai Kitab yang diterima adalah setelah 1200 tahun dari Konsili ‘Cartago sampai munculnya golongan bare yang disebut Protestan. Yang terakhir disebut ini kemudian menolak hasilhasil dari ketetapan pars pendahulu mereka. Mereka menolak Kitab Barukh, Tobit, Yehudet, Wisdom, Ecclesiastes, dan Kitab Mokaben (The Maccabean). Mereka berkata bahwa kitab-kitab itu harus ditolak dan tidak diterima (Kitab-Kitab Aporipa atau non-Canonicah. Begitu jugs mereka menolak sebagian hukum yang terkandung dalam Kitab Ester, yakni 6 dari 16 bab, sementara 10 pasal lainnya diterima.
Penolakan-penolakan kaum Protestan atas kitab-kitab tersebut didasarkan kepada enam faktor:
-Kitab-kitab itu asalnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan Jalidi, dan sekarang kitab-kitab itu tidak lagi memakai kedua bahasa itu.
-Kaum Yahudi tidak menerimanya sebagai Kitab wahyu atau ilham.
-Seluruh penganut agama Kristen terdahulu tidak menerimanya.
-Menurut Jerome, kitab-kitab itu tidak cukup untuk memecahkan dan menetapkan persoalan keagamaan.
-Menurut Klous, kitab-kitab itu dibaca, akan tetapi tidak pada setiap tempat. Ini berarti bahwa sebagian besar dari penganut Masehi tidak menerimanya.
-Menurut Eusebius ***, sebagaimana dikutip dalam Bab 22 dari Kitab ke-4 bahwa kitab-kitab tersebut telah dipalsukan, terlebih Kitab II Mokabi 2.
__________________________________________________
* Nama lengkapnya Saint Jerome yang dalam bahasa Latin “Eusebius Hieronymus” (328-420 M). Sejak kecil ia menuntut ilmu kepada guru-gurunya di Roma sehingga ia menjadi pemimpin besar gereja, sastrawan Latin paling populer, serta kritikus dan penerjemah Injil ke dalam bahasa Latin. Di antara karya monumentalnya adalah buku berjudul Inventarisasi Kejadian (The Chit:slick of Eusebius) yang merupakan referensi penting mengenai sejarah dan kejadian-kejadian masa lampau. la menulis lebih dari 150 risalah (buku catatan).
** Kartago adalah nama kota yang terletak di pulau kecil di teluk Tunis. Biasa juga ditulis dengan memakai huruf en”, yakni Kortujana, tetapi bukan Kortujana yang berada di Spanyol. Kartago jugs dikenal dengan nama Pinokio Lama, yang didirikan pada abad IX Sebelum Masehi. Dan pada abad III M kota ini menjadi salah satu kota penting bagi agama Kristen.
*** Eusebius (uskup Kaisarea 325) adalah sejarawan Kristen.
Dikutip dari : Izhar al-Haq : Menelusuri jejak Kitab Suci lewat debat fenomenal / Syekh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi : penerjemah, Alimin, Nunu Burhanuddin. – Cet. 1 – Jakarta: Cendekia, 2003